Sunday, 17 January 2016

Merenungi bom bunuh diri teroris di Jakarta: Di mana kah jalan menuju Surga?

Jika kita membaca literatur yang ada, maka kita akan mendapat bayangan bahwa surga adalah tempat manusia pertama tinggal sebelum diturunkan ke bumi. Surga adalah tempat yang indah tiada tara & tidak dapat dibandingkan dengan segala yang terbaik yang ada di dunia. Surga adalah tempat di mana kita akan merasakan berbagai kenikmatan yang berlipat-lipat dibanding kenikmatan di dunia. Surga adalah tempat di mana kita dapat menuruti & memenuhi segala nafsu yang kita punya untuk dipuaskan berkali-kali tanpa syarat & tanpa batasan. Surga adalah tempat kita melakukan apapun & meminta apapun yang kita inginkan. Surga adalah tempat di mana kita akan melihat hal yang sangat indah yang tidak pernah kita lihat di dunia, mendengar suara yang sangat merdu yang tidak pernah kita dengar di dunia, merasakan puncak kenikmatan yang tidak pernah kita rasakan di dunia, merasakan kelezatan lidah yang tak terkira yang tidak pernah kita rasakan di dunia, merasakan semerbak bau yang menggugah selera paling tersembunyi yang tidak pernah kita rasakan di dunia. Surga adalah tempat merasakan berbagai kesenangan, kegembiraan, & kebahagiaan tanpa diiringi kesusahan, kesedihan, & penderitaan.

Dengan gambaran yang menggiurkan & membumbungkan imajinasi kita, maka tidak heran jika Surga menjadi impian bagi setiap orang di dunia. Jika pilihannya adalah Surga & Neraka, maka tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak menginginkan Surga. Semua orang pasti ingin masuk Surga & tidak ada yang ingin masuk Neraka. Hanya saja karena keterbatasan kita, kita tidak mengetahui cara/jalan untuk menuju Surga. Tanpa harus berpikir keras, kita semua tahu bahwa cara/jalan menuju Neraka sangatlah mudah, kita tinggal melakukan perbuatan jahat/perbuatan dosa apapun, maka kita akan menjadi calon penghuni Neraka. Tapi bagaimana dengan cara/jalan menuju Surga? Tentunya  cara/jalan menuju Surga adalah dengan melakukan hal sebaliknya, yakni melakukan perbuatan baik. Tapi bagaimana dengan klaim teroris yang merasa dirinya telah melakukan perbuatan baik dengan mati syahid di jalan Tuhan melalui bom bunuh diri terhadap orang-orang yang dianggap musuh agama? Jika kematiannya adalah termasuk mati syahid & perbuatan terornya termasuk perbuatan baik, maka akan timbul pertanyaan, mengapa orang yang tidak bersalah juga ikut menjadi korban? Bukankah meneror, melukai, apalagi mematikan orang tidak bersalah adalah perbuatan jahat? Oleh karena itu, jika teroris mengklaim dirinya telah mati syahid di jalan Tuhan, maka di saat bersamaan teroris tersebut juga mati di jalan setan, karena telah melakukan perbuatan jahat terhadap orang yang tidak bersalah.

Dengan demikian, bom bunuh diri yang dilakukan teroris tidak bisa lagi diklaim sebagai jalan menuju Surga karena di saat bersamaan teroris tersebut juga sedang berjalan menuju Neraka. Hal ini disebabkan, bunuh diri adalah dosa besar, apalagi jika bunuh diri dilakukan dengan cara meledakkan diri menggunakan bom di tempat keramaian yang menimbulkan banyak korban jiwa dari kalangan orang-orang tidak bersalah. Bukankah dengan semakin banyaknya korban jiwa dari kalangan orang-orang tidak bersalah berjatuhan, maka dosanya juga akan semakin besar? Jadi bagaimana bisa para teroris dengan bangga & yakin bahwa bom bunuh diri yang dilakukannya adalah perbuatan yang memiliki pahala besar & mendapat balasan Surga serta dikawinkan dengan bidadari cantik jelita? Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya, yakni perbuatan yang memiliki siksaan besar & mendapat balasan Neraka serta dilebur ke dalam api Neraka yang panas membara? 

Dari penjelasan di atas, jika yang menjadi alasan tindakan terorisme adalah untuk memperoleh pahala & meraih Surga, maka para teroris perlu berpikir ulang atas tindakan teror yang dilakukannya. Jangan sampai karena berpikir sempit & berpikir sesat sehingga bukan pahala & Surga yang diperoleh tetapi bisa jadi malah sebaliknya, siksa & Neraka yang diperoleh. Oleh karena itu, sebagai bahan renungan & sebagai pencerahan tentang bagaimana cara/jalan menuju Surga, maka kita harus kembali pada ajaran Agama yang murni, yang menggambarkan dengan jelas cara/jalan menuju Surga yakni dengan memiliki akhlak yang mulia (yakni berperilaku sesuai dengan nilai-nilai & budi pekerti yang luhur) & mencapai tujuan yang mulia (yakni menjadi hamba Tuhan & menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain). Jika kita memiliki akhlak mulia & tujuan mulia, maka balasan Surga tidak hanya kita rasakan di Akhirat, tetapi bahkan bisa jadi, balasan Surga dunia pun akan kita dapatkan. Jadi untuk apa melakukan tindakan terorisme, jika ketika di dunia akan dikutuk oleh semua manusia & ketika di Akhirat akan dikutuk oleh Tuhan? Apakah para teroris sanggup dikutuk di dunia & di Akhirat serta tersiksa lahir & batin atas kutukan ini?

Jika para teroris dapat menyadarkan diri & bangun dari kesempitan & kesesatan berpikirnya, maka sebenarnya Tuhan telah menganugerahkan sesuatu yang berharga pada diri setiap orang, yang dapat digunakannya untuk mencapai kebahagiaan di dunia & di Akhirat. Sesuatu itu adalah potensi diri yang masih terpendam dalam diri setiap orang. Apabila potensi diri tersebut dikenali, diaktualisasikan, & digunakan untuk memberi manfaat bagi banyak orang, maka kita akan menjadi orang yang mulia. kemudian hidup kita akan menjadi semakin sempurna ketika kita juga memiliki akhlak mulia & kesempurnaan itu mencapai puncaknya ketika kita menjadi hamba Tuhan. Dengan demikian, jika memutuskan untuk menjadi teroris & melakukan bom bunuh diri, sebenarnya teroris tersebut telah menyia-nyiakan potensi terpendam dalam dirinya. Potensi orang tersebut menjadi hilang begitu saja tanpa pernah digali & dikenali padahal sebenarnya jika teroris tersebut tidak melakukan bom bunuh diri & insaf atas perbuatan terorismenya, potensi terpendam dalam dirinya berpeluang untuk dapat membuatnya menjadi orang yang berarti & bernilai serta dapat mengantarkannya kepada Surga yang sejati, yakni hidup bahagia di dunia & Akhirat.

Oleh karena itu, daripada teroris menyia-nyiakan potensi terpendamnya dengan melakukan bom bunuh diri & melakukan penghancuran di berbagai tempat, maka bukankah lebih baik mendayagunakan potensi terpendamnya untuk mengabdikan diri pada Tuhan dengan melakukan bermacam kebaikan di berbagai tempat untuk membangun sebuah peradaban dunia yang damai serta peradaban dunia yang menjunjung tinggi akhlak mulia (yakni berperilaku sesuai nilai-nilai & budi pekerti yang luhur) & tujuan mulia (yakni menjadi hamba Tuhan & menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain). Peradaban dunia yang damai serta peradaban dunia yang menjunjung tinggi akhlak mulia & tujuan mulia, telah dirintis oleh para utusan Tuhan selama ribuan tahun perjalanan sejarah dunia ini, tetapi selalu diselewengkan & dirusak oleh orang-orang yang berpikir sempit & berpikir sesat. Tapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi di jaman modern seperti sekarang, paling tidak orang-orang yang berpikiran maju di berbagai tempat di dunia, dapat menyadari bahwa peperangan adalah jalan yang hanya membawa kehancuran bagi berbagai pihak yang bertikai. & oleh karena itu misi perdamaian & pembangunan di berbagai tempat adalah misi besar kita semua, dalam rangka mencapai visi besar peradaban dunia yang berakhlak mulia & bertujuan mulia yang dapat mengantarkan kita pada jalan menuju Surga dunia maupun Surga Akhirat. Inilah jalan Surga yang selama ini dicari-cari orang.

Sunday, 3 January 2016

Membebaskan agama dari "menjadi kambing hitam" para teroris serta memisahkannya dari pemikiran yang sempit & sesat

Setiap agama di dunia pasti menjunjung tinggi nilai-nilai & budi pekerti yang luhur karena nilai-nilai & budi pekerti yang luhur adalah landasan yang ideal untuk mengisi setiap sendi kehidupan. Agama menjadikan nilai-nilai & budi pekerti yang luhur sebagai inti ajaran yang merupakan pedoman bagi penganutnya dalam berperilaku & mengatasi berbagai persoalan hidup di dunia ini. Agama disediakan oleh Tuhan bagi manusia sebagai jalan dalam memahami arti hidup & menjalani kehidupan secara lebih baik & teratur. Agama tidak hanya menyediakan nilai-nilai & budi pekerti luhur tetapi juga menyediakan tujuan yang mulia. Tujuan mulia tersebut adalah menjadi hamba Tuhannya & mensyukuri segala nikmat yang diterimanya dengan cara mendayagunakan anugerah yang diterimanya untuk hal-hal yang baik & bermanfaat bagi orang lain. Agar bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, maka untuk mencapainya adalah dengan cara mengenali potensi diri, mengenali minat-bakat & bidang yang dikuasai, kemudian mendayagunakan potensi tersebut untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Berdasarkan gambaran tentang ajaran agama secara umum di atas, maka terorisme jelas bukan merupakan ajaran dari agama manapun. Ajaran terorisme hanya membuat para pelakunya menjadi penebar teror dalam mencapai tujuannya sedangkan ajaran agama membuat para pelakunya menjadi penebar kebaikan dalam mencapai tujuannya. Terorisme merusak perdamaian yang ada di dalam masyarakat sedangkan agama menjaga perdamaian yang ada di dalam masyarakat. Terorisme mengabaikan nilai-nilai & budi pekerti yang luhur sedangkan agama menjunjung nilai-nilai & budi pekerti yang luhur. Terorisme membawa kita kepada dunia yang kelam sedangkan agama membawa kita kepada dunia yang terang. Terorisme mengaburkan makna kebenaran & kebaikan sedangkan agama memperjelas makna kebenaran & kebaikan. Terorisme memberi kerugian kepada para pelakunya & orang lain sedangkan agama memberi manfaat kepada para pelakunya & orang lain. Terorisme membuat hidup kita menjadi lebih buruk sedangkan agama membuat hidup kita menjadi lebih baik, dsb.
Ajaran terorisme & ajaran agama jelas sangat berbeda, meskipun ajaran terorisme dibungkus dalam ajaran agama yang seolah-olah murni & bertujuan mulia. Cara mengenali ajaran agama masih merupakan ajaran murni/telah dicemari ajaran terorisme adalah dengan cara merenungkan ajaran agama tersebut, apakah setelah mempelajarinya, membuat kita menjadi semakin dekat dengan tujuan mulia (menjadi hamba Tuhan & menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain) atau malah semakin jauh dari tujuan mulia (menjadi hamba setan & menjadi orang yang menghancurkan orang lain). Hal ini karena Tuhan Maha Mulia, Maha Baik, Maha Bijak sehingga ajaran agama yang berasal dari Tuhan pasti memiliki tujuan yang mulia & untuk menyempurnakan manusia. Jadi tidak mungkin ajaran agama yang murni, pada akhirnya membuat para penganutnya menjadi penebar teror & perusak perdamaian dunia. Kalau para penganut suatu agama malah menjadi seorang teroris, maka hal itu berarti terjadi kesalahan tafsir/pemahaman yang keliru terhadap maksud & tujuan sebenarnya dari ajaran agama tersebut.
Kesalahan tafsir/pemahaman yang keliru terhadap ajaran suatu agama akan selalu terjadi dalam setiap agama manapun, hal ini karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam memahami suatu ajaran tertentu. Bisa jadi karena keterbatasan pengertian seseorang, suatu ajaran "A" dimengerti oleh orang lain menjadi "A1" tetapi bagi orang yang lainnya menjadi "A2", bahkan ada yang salah memahaminya menjadi ajaran "b" karena penyimpangan pemikiran orang tersebut. Hal ini-lah yang terjadi pada terorisme. Setiap agama pasti memiliki tujuan yang mulia, tetapi di antara para penganutnya ada yang berpikiran sempit sehingga menganggap ajaran agamanya yang paling benar kemudian menganggap ajaran agama lain adalah salah. Padahal jika ditarik secara keseluruhan, setiap agama mengajarkan nilai-nilai & budi pekerti yang luhur serta mengajarkan tujuan yang mulia. Yang membedakan antara agama satu dengan agama lain adalah konsep tentang Tuhan & bagaimana beribadah kepadaNYA.
Konsep tentang Tuhan & bagaimana beribadah kepadaNYA adalah persoalan keyakinan terhadap kebenaran, yang mana kebenaran sifatnya pasti & jelas. Karena kebenaran bersifat pasti & jelas, maka bisa ditelusuri & ditemukan, sehingga bagi yang sungguh-sungguh mencari kebenaran, maka orang tersebut akan menemukannya. Tetapi pada kenyataannya, masing-masing agama mengklaim agamanya adalah benar & masing-masing penganutnya meyakini hal tersebut. Oleh karena agama berkaitan dengan persoalan keyakinan, maka kita akan sulit mempengaruhi orang lain yang meyakini agamanya adalah benar, meskipun menurut kita, agamanya salah. Begitupun sebaliknya, orang lain akan sulit mempengaruhi kita yang meyakini agama kita adalah benar, meskipun menurutnya, agama kita salah. Jadi kita tidak bisa memaksakan keyakinan kita pada orang lain, & sebaliknya, orang lain tidak bisa memaksakan keyakinannya pada kita. Sehingga yang bisa kita lakukan dalam hal keyakinan orang lain terhadap kebenaran "konsep tentang Tuhan & bagaimana beribadah kepadaNYA" adalah menghormati keyakinannya berdasarkan prinsip: "bagiku agamaku, bagimu agamamu".
Yang menyebabkan terorisme menjadi menyimpang dari ajaran agama yang murni adalah karena pemikiran yang sempit & sesat. Karena berpikir sempit, sehingga ajaran "A" yang berkembang menjadi ajaran "A1", "A2", "A3", dst, dipaksakan oleh seseorang harus menjadi ajaran "a" karena ajaran selain "a" dianggap salah. Padahal jika ditarik secara keseluruhan, berbagai versi ajaran tersebut memiliki kesamaan, yakni sama-sama bersumber dari ajaran "A". Begitupun dalam hal agama, kesamaan di antara semua ajaran agama adalah sama-sama berasal dari Tuhan & diperuntukkan bagi manusia untuk suatu tujuan yang mulia, tetapi disebabkan oleh sempitnya pemikiran para teroris tersebut sehingga agama lain dibenci mereka karena dianggap tidak punya tujuan yang mulia & tidak berasal dari Tuhan. Padahal selama agama lain mengajarkan tujuan yang mulia & tidak mengganggu kita, maka mengapa kita harus membenci & memusuhi mereka? Bukankah lebih baik kita saling hormat menghormati satu sama lain & hidup berdampingan secara damai? Mengapa kita harus membenci & memusuhi agama lain jika mereka tidak mengganggu kita?
Penyebab berikutnya mengapa terorisme menyimpang dari ajaran agama adalah karena pemikiran yang sesat. Karena berpikir sesat sehingga ajaran "A" yang memiliki variasi ajaran "A1", "A2", & "A3" dst, disimpangkan menjadi ajaran "b" yang sangat berbeda jauh dengan bermacam versi ajaran "A" tersebut. Dalam hal agama, semua agama mengajarkan tujuan yang mulia tetapi karena pemikiran yang sesat sehingga para teroris menyimpangkan ajaran agama yang mendorong kepada tujuan yang mulia menjadi ajaran untuk memerangi & menghancurkan ajaran/agama lain yang dianggap musuh. Oleh karena itu aksi terorisme tidak-lah sesuai dengan ajaran agama yang mendorong kepada tujuan yang mulia tersebut. Aksi terorisme merupakan bentuk pemikiran yang sesat & melenceng jauh dari ajaran agama manapun. Aksi terorisme menodai & merusak tujuan mulia setiap agama, sehingga terorisme akan membawa kehancuran bagi setiap agama & setiap negara di manapun. Dengan demikian, aksi terorisme walaupun dikemas & dibalut dengan berbagai alasan & pembenaran dari dalil agama, jelas bertentangan dengan tujuan mulia dari agama manapun. Sebagai renungan, coba kita bayangkan, saat dalam situasi & keadaan damai, tiba-tiba para teroris melakukan teror, dapatkah aksi teror tersebut dibenarkan?
Jika aksi teror dibenarkan & orang lain bersikap mengabaikan, maka akan terjadi banyak peperangan di bumi ini. Jika terjadi banyak peperangan di bumi ini, maka bukankah lama-lama bumi akan hancur? Jika bumi hancur, maka apa artinya hal ini? Bukankah hal ini sama saja dengan kiamat? Apakah kita semua ingin segera mengalami hari kiamat? Apakah kita semua sudah siap menyambut hari kiamat? Jika kita belum siap menyambut hari kiamat, lalu untuk apa kita melakukan peperangan yang pada akhirnya hanya mengakibatkan kehancuran bagi banyak orang? Meskipun hal ini terlihat berlebihan ketika menyebut hari kiamat/akhir dunia, tapi adalah hal yang mungkin bahwa akan terjadi kehancuran besar di seluruh dunia jika terus terjadi peperangan di mana-mana. Jadi masih-kah ada orang yang secara sadar & menggunakan pikiran logisnya untuk menerima & menjadi pengikut terorisme yang mengatasnamakan agama demi suatu tujuan tertentu tapi menggunakan cara-cara teror yang merusak & menghancurkan kehidupan umat manusia? Agama tidak mengajarkan hal itu & hati nurani kita pun tidak akan pernah setuju dengan segala aksi terorisme dalam bentuk apapun. Jadi kita harus menyadari hal ini & tidak mudah tertipu dengan hasutan & rayuan manis terorisme dengan harta, tahta, wanita yang pada akhirnya menjerumuskan kita dalam jurang kehancuran bagi diri kita sendiri & orang lain.
Dari berbagai kasus terorisme yang pernah terjadi di dunia, yang paling banyak mendapat sorotan publik adalah terorisme yang dilakukan oleh orang Islam. Sederet aksi teror yang dilakukan ekstrimis Islam mengakibatkan orang di luar Islam memiliki anggapan bahwa Islam identik dengan terorisme. Karena ulah sejumlah kecil ekstrimis Islam tersebut, citra Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam menjadi rusak. Tetapi jika kita kembali pada ajaran agama yang murni seperti yang telah dijelaskan di atas, maka tidak ada agama di dunia ini yang menyetujui aksi terorisme & oleh karena itu sejumlah kecil ekstrimis Islam tersebut tidak bisa dijadikan tolak ukur bagaimana wajah Islam yang sesungguhnya. Hal ini karena aksi terorisme bermula dari pemikiran yang sempit & sesat, maka aksi terorisme dapat muncul dari agama manapun & negara manapun. Sebagai contohnya adalah sebagai berikut: agama Islam dengan aksi teror ISIS di Irak & Suriah, agama kristen dengan aksi teror Serbia di Bosnia, agama Yahudi dengan aksi teror Israel di Palestina, agama Hindu dengan aksi teror Macan Tamil di Sri Lanka, agama Budha dengan aksi teror kepada muslim Rohingya di Mianmar. Dengan demikian, terorisme dapat menjangkiti siapapun & negara manapun jika pengaruh dari pemikiran sempit & sesat diterima dengan mentah-mentah, tanpa terlebih dahulu direnungkan & disaring baik-baik.
Jika kita merujuk pada ajaran beberapa agama besar dunia, maka tidak ada ajaran yang secara langsung memerintahkan untuk berperang & menghancurkan pihak lain/agama lain. Semua agama lebih mengutamakan akhlak mulia & tujuan yang mulia. Akhlak mulia adalah berasal dari nilai-nilai & budi pekerti luhur sedangkan tujuan mulia adalah menjadi hambaNYA & menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu di sini diberikan contoh ajaran beberapa agama besar di dunia, & beberapa agama yang dimaksud adalah: agama langit yakni Islam, Kristen, & Yahudi serta agama bumi yakni Hindu & Budha. Agama Islam memiliki ajaran rahmat bagi semesta alam, agama Kristen memiliki ajaran kasih sayang, agama Yahudi memiliki ajaran 10 perintah Tuhan, agama Hindu-Budha memiliki ajaran kedamaian spiritual. Dengan demikian, maka ajaran terorisme tidak terdapat dalam ajaran agama manapun & oleh karena itu segala bentuk aksi terorisme adalah murni berasal dari penganut agama masing-masing yang berpikir sempit & sesat dalam memahami ajaran & tujuan yang mulia dari suatu agama. Jadi, kita tidak bisa menyebut suatu agama tertentu sebagai penyebab terorisme karena seperti yang sudah dijelaskan di atas, penyebabnya adalah pemikiran yang sempit & sesat. & kita tidak bisa menuduh agama tertentu identik dengan terorisme hanya karena ulah segelintir ekstrimis yang melakukan aksi terorisme, hal ini karena setiap agama pernah memiliki sejarah kelam mengenai aksi terorismenya masing-masing yang tidak bisa digunakan untuk menggambarkan bahwa aksi terorisme tersebut sebagai wajah ekstrim yang sebenarnya dari masing-masing agama.
Tulisan ini dibuat untuk para pembaca dengan harapan agar kita semua dapat menyadari bahwa aksi terorisme telah mencoreng wajah masing-masing agama sebagaimana yang telah terjadi pada peristiwa kelam di masa lalu yang dilakukan para penganutnya yang berpikir sempit & sesat. Peristiwa kelam tersebut telah dicatat sejarah & menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia di setiap jaman bahwa betapa besarnya dampak buruk pemikiran sempit & sesat yang menyalahartikan ajaran agama menjadi terorisme. Jadi terorisme tidak hanya dimiliki oleh agama tertentu, tetapi juga dimiliki oleh agama lain yang telah dicemari oleh pemikiran sempit & sesat. & oleh karena itu terorisme adalah musuh bersama, yakni musuh bagi semua agama di dunia yang menyadari & mengakui akhlak mulia & tujuan mulia sebagai bentuk kesempurnaan manusia. Kesempurnaan manusia sebagai makhluk yang paling mulia di antara semua ciptaan Tuhan.
Akhir kata, dengan membuat tulisan tentang agama, bukan berarti penulis merasa sebagai orang yang benar & suci, tetapi penulis hanya-lah manusia biasa yang memiliki banyak kesalahan, kekurangan, kelemahan, & keburukan. Meskipun demikian, paling tidak penulis berusaha membahas persoalan tersebut dalam cara yang paling umum sehingga dapat diterima semua orang & dapat dikaji bersama untuk mendapatkan pengertian yang ideal tentang suatu persoalan. Di samping itu, maksud penulis membahas hal ini adalah dalam rangka untuk mengembalikan agama pada posisi semestinya yakni sebagai agama yang menjunjung tinggi akhlak yang mulia (berperilaku sesuai nilai-nilai & budi pekerti yang luhur) & agama yang mendorong penganutnya untuk menuju kepada tujuan yang mulia (menjadi hamba Tuhan & menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain). Hal ini agar agama dapat terbebas dari "menjadi kambing hitam" para teroris (yakni menjadikannya dalih untuk membenarkan aksi terorisme) & memisahkannya dari pemikiran yang sempit (yakni memaksakan ajaran/agamanya pada orang lain) & pemikiran yang sesat (yakni menghancurkan orang lain yang memiliki ajaran/agama yang tidak sesuai dengan ajaran/agamanya). Pada akhirnya hal ini dilakukan agar kita dapat menjaga perdamaian dunia & membangun peradaban yang lebih maju & lebih baik.

Friday, 1 January 2016

Memaknai tahun baru dengan GerMeIn

Perayaan tahun baru menjadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bentuk perpisahan kepada tahun yang lama untuk menyongsong tahun yang baru. Perayaan tahun baru dari tahun ke tahun dilakukan orang-orang dengan cara melakukan pesta yang meriah di daerah tempat tinggalnya/di daerah tempat wisata. Di daerah tempat wisata, disamping bertujuan untuk merayakan tahun baru, orang-orang itu juga memanfaatkan waktu tersebut sebagai momen melakukan rekreasi bersama keluarga/teman. Tidak heran jika setiap pergantian tahun akan terjadi kenaikan jumlah wisatawan secara drastis di sejumlah tempat wisata. Karena meriahnya perayaan, seakan-akan di pusat-pusat keramaian, berubah dalam sekejab menjadi tempat yang penuh sorak sorai oleh bermacam orang dari berbagai tempat. Suka cita mencapai puncaknya ketika sampai pada detik-detik pergantian tahun & pada saat itu ada yang mengiringinya dengan sorak sorai & suara terompet serta suara dentuman & peluncuran kembang api di udara yang terdengar menggelegar & terlihat indah. Langit seolah dilukis dengan pijaran api berbentuk kembang api menyala yang berwarna warni. Melalui perayaan ini, seolah kita mau berkata pada sang waktu, selamat tinggal "tahun lama" & selamat datang "tahun baru".

Untuk mengisi waktu dalam menyongsong & menghabiskan malam tahun baru, orang-orang melakukan berbagai macam kegiatan. Mulai dari kegiatan yang hanya dilakukan untuk sekedar melewatkan malam begitu saja/mengisinya dengan kegiatan yang positif/mengisinya dengan kegiatan yang negatif. Tapi pada dasarnya tahun baru dirayakan dengan makna untuk memperingati waktu yang telah berjalan selama setahun/untuk memperingati akhir perjalanan waktu kita selama setahun sekaligus menyambut awal perjalanan waktu kita pada tahun berikutnya. Berdasarkan hal ini, maka kita dapat memiliki pandangan bahwa akhir sesuatu merupakan awal dari sesuatu yang lain, dengan kata lain akhir tahun merupakan awal dari tahun yang lain. Dari sini, kita dapat memaknai akhir dari sesuatu dalam hidup kita sebagai awal dari sesuatu hal yang lain. Oleh karena itu makna perayaan tahun baru adalah untuk menyadarkan diri kita bahwa akhir tahun ini bukan-lah akhir dari segalanya karena akhir tahun ini adalah awal dari segalanya yakni sebagai awal dalam menyongsong hal baru & kesadaran baru.

Karena pembahasan kita di sini adalah tentang GerMeIn, Gerakan Memajukan Indonesia, maka kita akan memaknai pergantian tahun tersebut dalam sudut pandang gerakan memajukan Indonesia. Seperti yang pernah dibahas sebelumnya bahwa setiap orang "ingin maju" baik dalam hal "apa yang ada dalam dirinya" & "apa yang dimilikinya". Tidak ada orang yang ingin mundur/bahkan terjatuh ke dasar jurang kegagalan karena setiap orang normal di dunia ini memiliki sifat "ingin maju". Jadi dalam memaknai tahun baru, kita akan memandangnya sebagai perjalanan menuju sebuah awal baru, awal memulai gerak maju dengan berpijak pada berbagai peristiwa di masa lalu, bagaimanapun keadaannya. Dengan demikian, meskipun kita dahulu adalah orang gagal, tapi kita terus mencari sesuatu yang menjadi minat-bakat & bidang yang kita kuasai untuk bergerak maju serta menjadikan kegagalan di masa lalu sebagai pengalaman berharga dalam bergerak ke depan. Meskipun masa depan kita belum terlihat cerah, tapi kita terus menggali sesuatu yang berharga dalam diri kita & apa yang kita miliki untuk digunakan sebagai pondasi dalam membangun masa depan & hidup kita agar menjadi berharga.

Untuk memulai langkah maju di atas, di sini akan diringkaskan langkahnya, pertama, melakukan langkah awal yakni dengan mengenali diri kita, mengenali situasi & keadaan diri kita, mengenali potensi diri kita (minat-bakat & bidang yang dikuasai), kemudian langkah ke dua, menjadikan langkah awal tersebut sebagai titik mula/titik awal kita untuk bergerak maju. Dengan demikian kita akan mengetahui apakah kita sudah bergerak maju/tidak bergerak sama sekali/bahkan malah bergerak mundur, karena kita mengetahui di mana titik mula/titik awal kita dalam bergerak. Sebagai contohnya adalah tulisan-tulisan yang penulis buat, untuk membuat tulisan selanjutnya, penulis akan berpijak pada tulisan sebelumnya sebagai pondasi dalam membangun kerangka berpikir berikutnya, sehingga tulisan yang penulis buat akan terus bergerak maju hingga membentuk sebuah bangunan besar sebagai perwujudan pemikiran penulis tentang gerakan memajukan Indonesia. Oleh karena itu, tulisan-tulisan penulis tentang gerakan memajukan Indonesia dapat ditelusuri perkembangannya & kemajuannya.

Kemudian pasti akan ada yang bertanya-tanya atau bahkan berniat meruntuhkan bangunan yang penulis buat. Sebagai jawabannya, penulis sering menyampaikan bahwa penulis adalah manusia biasa yang memiliki kesalahan, kekurangan, kelemahan, & keburukan tetapi penulis punya keinginan untuk maju & oleh karena itu berbagai kritik-saran dari berbagai pihak akan penulis gunakan sebagai bahan dalam memperbaiki & menyempurnakan bangunan yang penulis buat. Dengan demikian penulis menyadari bahwa apa yang penulis lakukan adalah jauh dari sempurna & di luar penulis masih ada orang yang jauh lebih hebat & lebih baik dibanding penulis, meskipun begitu, karena penulis "ingin maju" maka kegagalan & kekalahan yang penulis alami tidak membuat penulis berhenti untuk bergerak di jalan yang telah penulis rintis dengan susah payah & tidak membuat penulis berhenti untuk terus memperbaiki bangunan pemikiran yang penulis buat. Oleh karena itu penulis akan terus melakukan pergerakan di bidang yang dikuasai penulis & dalam hal yang menjadi minat-bakat penulis.

Setelah kita membahas contoh konkret gerak maju yang dilakukan penulis dalam hal tulisan, selanjutnya kita bahas bagaimana penerapan gerak maju ini di lapangan. Saat pertama kali kita memikirkan kata "bergerak maju", maka kita akan memikirkan sesuatu yang abstrak/sesuatu di luar pengalaman kita sehari-hari. Sebagai contoh, misalkan kita adalah seorang yang gagal & putus asa karena merasa tidak memiliki hal berharga yang dapat dibanggakan. Saat dalam situasi & kondisi tersebut, maka kita tidak akan punya bayangan sama sekali tentang apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah situasi & keadaan yang sedang kita alami. Tetapi dengan berpegang pada prinsip "tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini", maka ketika kita terus mengenali diri & potensi diri (minat-bakat & bidang yang dikuasai), suatu saat nanti kita akan menemukan jalan hidup kita, jalan yang akan mengantarkan kita kepada jawaban atas pertanyaan "Mengapa kita terlahir di dunia?" Jalan berpikir ini juga berlaku bagi seseorang yang memiliki segala fasilitas (harta, tahta, rupa) yakni apa yang bisa dilakukannya dengan fasilitas yang dia punya agar hidupnya menjadi berharga/agar bisa menemukan jawaban atas pertanyaan "Mengapa dia terlahir di dunia dengan fasilitas tersebut?"

Dalam memulai langkah nyata untuk bergerak maju, kita juga tidak perlu membayangkan terlalu muluk-muluk bahwa kita harus "bisa/punya kemampuan" untuk melakukan sesuatu  dengan baik. Selama yang kita lakukan sesuai dengan minat-bakat & bidang yang kita kuasai, maka berbagai kesalahan, kekurangan, kelemahan, & keburukan yang mengiringi kita, tidak menjadi penghalang/menghentikan langkah kita untuk terus menggali & menemukan potensi terpendam/hal berharga yang dapat kita gunakan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Segala ejekan & hinaan yang merendahkan & menjatuhkan kita, tidak membuat kita mudah putus asa selama yang kita lakukan adalah untuk menggali potensi diri demi menemukan sesuatu yang berharga yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Ketika kita sudah menemukan potensi terpendam/hal berharga yang ada dalam diri kita, maka saat itu-lah kita mulai mengaktulisasikan/membuatnya nyata dengan cara mendayagunakannya/mengarahkannya kepada suatu tujuan yang berharga yakni untuk memberi manfaat pada orang lain, yang jika diperbesar & diperluas, tujuan tersebut akan menjadi "membangun & memajukan Indonesia" yang pada akhirnya akan memberi manfaat kepada lebih banyak orang.

Dengan demikian, untuk menyambut & mengisi waktu kita setahun ke depan agar lebih berharga, maka ringkasnya adalah dengan cara mengenali potensi diri kemudian melakukan aktualisasi diri dalam gerakan memajukan Indonesia. Masing-masing rakyat Indonesia mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya untuk didayagunakan/diarahkan pada usaha membangun & memajukan Indonesia. Masing-masing rakyat Indonesia bergerak di bidang yang dikuasainya untuk membangun & memajukan Indonesia. Masing-masing rakyat Indonesia mengenali minat & bakatnya yang dapat digunakan untuk membangun & memajukan Indonesia. Masing-masing rakyat Indonesia bersatu padu & bahu membahu membangun & memajukan Indonesia. Masing-masing rakyat Indonesia mengenali potensi negaranya & mendayagunakannya untuk membangun & memajukan Indonesia. Masing-masing rakyat Indonesia menyadari makna perjuangan & pengorbanan besar para pendahulu bangsa dalam melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga perpecahan & pemisahan diri dari NKRI hanya-lah emosi sesaat & solusi instan yang tidak selalu memberikan hasil diharapkan & oleh karena itu daripada sibuk berjuang untuk memisahkan diri, lebih baik memperjuangkan seorang putra daerah yang mengerti & mencintai daerahnya untuk menjadi seorang pemimpin daerah yang akan memperjuangkan & menjadikan daerahnya agar menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, ini-lah negara kita, negara Indonesia, negara dengan beragam suku-budaya & kekayaan alam yang melimpah, negara dengan ribuan pulau & perairan yang membentang luas, negara dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yakni berbeda-beda tetapi tetap satu, Inilah Kita, Inilah Indonesia. Majulah Indonesiaku & Jayalah Selalu.

Wednesday, 23 December 2015

INTERMEZO 2 (Membongkar persoalan & mendudukkan persoalan pada tempatnya - Bagian 2)

Kemudian kita bahas juga anggapan orang yang mengatakan bahwa penulis merupakan orang yang penuh tipu muslihat & serakah, yang ingin memiliki segalanya (harta, tahta, & wanita) dengan cara mudah. Sebelum membahasnya kita perlu ketahui dulu bahwa untuk mencapai puncak gunung yang memungkinkan kita untuk memiliki sudut pandang yang lebar & jauh, kita harus mendaki gunung terlebih dahulu untuk sampai di puncak. Setelah sampai di puncak, kita dapat melihat & menikmati pemandangan alam di sekeliling kita, di samping itu, kita juga dapat merasakan kebebasan & kepuasan memandangi cakrawala langit yang seolah tak berbatas. Berdasarkan perumpamaan ini, maka kemampuan penulis dalam melihat permasalahan tidaklah dapat disebut sebagai tipu muslihat jika penulis menggunakannya untuk membuat tulisan-tulisan yang berisi tentang hal-hal yang positif & bermanfaat. Jika masih ada yang mendebat hal ini & menganggap penulis bersembunyi di balik topeng kebaikan untuk menyembunyikan keburukan penulis, maka agar menjadi lebih objektif, silahkan menelusuri perjalanan penulis dari awal hingga akhir, bahkan kalau perlu menelusuri silsilah keturunan penulis sampai ke nenek moyang penulis untuk lebih menguatkan kemungkinan apakah penulis mungkin untuk melakukan hal itu/tidak. Katakanlah bahwa saran penulis terlalu berlebihan & siapa juga yang mau repot menelusuri latar belakang penulis sampai sejauh itu. Jika seperti itu, maka apakah selama ini ada tulisan penulis yang mengarahkan kepada hal-hal yang negatif? Bukankah penulis selama ini banyak menulis hal-hal yang mengajak kepada hal-hal yang positif? Jika masih ada yang mendebatnya, maka penulis akan bertanya pada mereka, apakah mereka bisa membedakan orang baik & orang jahat? Orang yang benar & orang yang salah? Katakanlah mereka kesulitan untuk membedakannya, jika seperti itu, maka selama yang penulis lakukan adalah menyebarkan ide positif & menginspirasi orang lain, maka apa yang jadi masalahnya? Selanjutnya kita bahas persoalan tentang anggapan yang mengatakan bahwa penulis adalah orang yang serakah. Tidak dipungkiri bahwa penulis menginginkan segalanya, harta melimpah, tahta yang luas, & wanita yang banyak, tetapi jika kita mau berkata sejujurnya, bukankah kebanyakan pria akan menginginkan hal serupa? Di atas itu semua, meskipun penulis menginginkan segalanya, tapi penulis hanya akan mendapatkan semuanya itu dengan cara & jalan yang dibolehkan & tidak terlarang. Jadi apa yang jadi masalahnya? 

Setelah membahas beberapa hal di atas, kita bahas juga persoalan yang biasa diangkat & dijadikan isu untuk memojokkan penulis, yang mengatakan bahwa penulis adalah peselingkuh, pengingkar janji, pembohong, & memanfaatkan harta & tahta orang lain. Untuk persoalan seingkuh dengan perempuan lain sudah pernah dibahas dalam tulisan penulis sebelumnya, yang penulis definisikan sebagai perbuatan terlarang seseorang yakni dengan memuaskan hasrat dirinya kepada lawan jenis tanpa ikatan pernikahan, walaupun orang tersebut sudah memiliki suami/istri. Karena penulis masih jomblo & bukan pelaku pergaulan bebas, maka orang yang menyebut penulis sebagi peselingkuh adalah jelas merupakan fitnah. Sedangkan yang menganggap penulis ingkar janji atas apa yang telah diikrarkan, maka dahulu penulis memang pernah berniat untuk membangunkan Indonesia yang sedang tertidur pulas & untuk mewujudkan hal itu, saat ini penulis semakin mendapatkan tempatnya setelah penulis terjun di dunia tulis menulis yang merupakan minat-bakat & bidang yang dikuasai penulis. Penulis menyatakan buah pikirannya serta menyalurkan & mewujudkan ide-idenya tentang gerakan memajukan Indonesia melalui tulisan. Dengan demikian niat penulis yang pernah disampaikan pada suatu waktu di masa lalu, yang dianggap sebagai janji, telah ditunaikan oleh penulis dalam bentuk tulisan-tulisan tentang Gerakan Memajukan Indonesia di masa kini.

Jika ada yang mendebat hal itu & mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ingkar janji terhadap perempuan tersebut, maka penulis tidak menyangkal jika pernah mengatakan sesuatu terhadap perempuan tersebut, tetapi perempuan tersebut juga telah mengatakan sesuatu kepada penulis. Jadi, jika yang dikatakan penulis dianggap sebagai janji, maka yang dikatakan perempuan tersebut juga bisa disebut sebagai janji. Jika penulis & perempuan tersebut berpisah maka itu artinya satu sama lain saling mengingkari janji. Jadi, jika ada yang memojokkan penulis dengan isu ingkar janji ini, maka tidak bisa hanya menyebut penulis sebagai satu-satunya pihak yang ingkar janji karena di sini ada juga pihak perempuan yang ikut terlibat di dalamnya. Perpisahan ini tidak lain merupakan hasil dari perkembangan persoalan yang sudah berjalan sampai sejauh ini & hingga seperti ini. Perpisahan tersebut dimulai dari masalah lama yakni ketidaksetujuan dari pihak perempuan terhadap penulis yang kemudian ditambah lagi masalah baru yakni keputusan penulis untuk berpoligami, sehingga perpisahan tersebut tetap terjadi hingga sekarang. Sebenarnya saat ini, masalahnya akan menjadi mudah terpecahkan ketika pihak perempuan bersedia dipoligami sehingga masing-masing pihak tak perlu saling ingkar janji jika memutuskan untuk berpisah. Berhubung masing-masing pihak tetap bertahan & tidak mengambil jalan tengah untuk mendamaikan ego masing-masing dalam menyelesaikan masalah ini, maka perpisahan adalah jalan terbaik meskipun harus saling mengingkari janji. Jadi isu ingkar janji ini sudah tidak pada tempatnya jika terus digunakan untuk memojokkan penulis, karena isu ingkar janji itu akan berbalik lagi pada pihak perempuan tersebut.

Kemudian kita bahas juga orang-orang yang memojokkan penulis sebagai tukang bohong. Untuk menanggapi pernyataan tersebut, maka penulis sederhanakan permasalahan tentang penulis ke dalam 2 sisi. Sisi pertama adalah sosok penulis yang ada di dalam kenyataan & sisi ke dua adalah sosok penulis yang tergambar di dalam tulisan. Jika yang dimaksud bahwa penulis berbohong dalam hal menuliskan sosok dirinya yang tidak sesuai dengan kenyataan, maka penulis sampaikan di sini bahwa tulisan penulis adalah termasuk karya fiksi, jika ada kemiripan cerita & tokoh di dalamnya, maka hal itu merupakan unsur kesengajaan, karena berbagai cerita versi penulis dibuat untuk mengimbangi berbagai cerita versi/yang dibuat orang lain. Jadi sekarang penulis adalah salah satu penulis karya fiksi yang menggunakan bermacam sosok orang yang dibutuhkan, di mana penulis berperan sebagai sosok tokoh utama yang membentuk serangkaian peristiwa untuk kemudian menyusunnya sebagai suatu cerita. Katakanlah karya fiksi yang dibuat penulis tidak bisa digunakan untuk memojokkan penulis sebagai seorang pembohong, sehingga para pendebat tersebut beralih berkata bahwa di dunia nyata penulis banyak berkata bohong, maka kita harus tahu apa itu "bohong". "Bohong" berarti "tidak sesuai kenyataan", "berkata bohong" berarti "berkata tidak sesuai kenyataan". Di antara sekian banyak kata-kata, ada kata-kata/rayuan gombal yang diucapkan untuk merayu lawan jenis dengan kata-kata berlebihan yang tidak sesuai kenyataan. Karena penulis di dunia nyata masih jomblo & belum pernah pacaran, sehingga bisa dikatakan bahwa penulis sangatlah sedikit mengucapkan rayuan gombal kepada lawan jenis & itu artinya tidak banyak kata bohong yang diucapkan penulis. Dengan demikian orang yang berkata bahwa di dunia nyata penulis banyak berkata bohong, berarti orang tersebut sendirilah yang berkata bohong karena berkata tidak sesuai kenyataan. Jika masih tidak terima & mendebat hal ini, maka pernahkah orang tersebut bertemu & bersama penulis selama beberapa waktu lamanya di dunia nyata? Jika belum pernah, berarti informasi tentang penulis yang orang tersebut dapatkan, patut dipertanyakan asal usul & kebenarannya. Sekedar mengingatkan, bahwa jangan sampai karena terlalu benci pada penulis sehingga harus mencari-cari & mengada-ada tentang kesalahan & keburukan yang dilakukan penulis, karena penulis bagaikan cermin yang dapat merefleksikan balik apa yang kalian cari-cari & ada-adakan itu kepada diri kalian sendiri.

Kemudian soal anggapan yang menyudutkan penulis bahwa penulis memanfaatkan harta & tahta orang lain, maka sebelum membahasnya, penulis kemukakan dahulu kata bijak yang dikatakan orang paling bijak yang menyebutkan bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dengan dasar ini maka penulis memiliki keinginan untuk menjadi orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sehingga penulis berusaha membuat tulisan-tulisan yang sifatnya menggugah & menyadarkan orang-orang, yang termasuk di dalamnya adalah orang yang berharta & berkuasa agar tergerak & bergabung ke dalam gerakan memajukan Indonesia. Bukankah dengan bergabung dalam gerakan memajukan Indonesia, maka masing-masing dari kita akan memiliki peran & andil dalam usaha memajukan Indonesia? & ketika kita punya peran & andil dalam usaha memajukan Indonesia, bukankah kita akan merasa bangga & berjasa saat Indonesia berhasil maju? & di atas semua itu, bukanlah dengan begitu, akhirnya kita menjadi orang yang berguna bagi bangsa Indonesia/orang banyak? & hal itu berarti kita menjadi sebaik-baik orang. Tidakkah kita ingin menjadi sebaik-baik orang? Katakanlah ada yang merasa dirugikan, tapi bukankah pengorbanan itu (kerugiannya) akhirnya berdampak pada kemajuan Indonesia? Jika ada yang masih protes atas kerugian yang dideritanya, maka penulis sampaikan padanya bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia selama pengorbanannya adalah untuk kebaikan & demi tujuan yang besar. Apabila masa hidup kita masih cukup, bisa jadi balasan atas pengorbanan tersebut akan kita terima di dunia ini suatu saat nanti ketika sudah tiba waktunya.

Kemudian kita bahas juga orang yang memprotes penulis sebagai orang yang suka mengatur orang padahal penulis sendiri tidak suka diatur & didikte. Sebelum menanggapinya, kita ingat lagi permasalahan yang dulu pernah terjadi hingga saat ini, di mana penulis seolah-olah dijadikan sebagai objek untuk disorot & dicari-cari kesalahan serta keburukannya. Jika dipandang secara positif, memang berbagai sorotan itu sebenarnya baik untuk penulis karena akan memberikan masukan positif terhadap berbagai kesalahan & kekurangan yang ada pada penulis sehingga penulis dapat memperbaikinya agar bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Tapi yang jadi masalahnya adalah, sorotan itu terkadang hanya untuk mencari-cari kesalahan & keburukan penulis yang kemudian digunakan sebagai bahan hinaan, lelucon, cemoohan, ejekan, yang pada akhirnya bertujuan untuk menjatuhkan & merendahkan penulis. Siapapun pasti ingin berubah menjadi lebih baik lagi, jadi segala kritik & masukan yang membangun, tentunya ingin sekali kita ambil & terapkan pada diri kita yang mendapat kritik. Tapi tiap orang punya kemampuan berbeda-beda dalam menerima & menerapkan kritik & saran tersebut terhadap dirinya sendiri, sehingga ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga bisa berubah atau bahkan membutuhkan waktu yang singkat untuk bisa berubah. Berangkat dari hal itu semua, penulis tidak bermaksud mengkritik, menyarankan, & mengatur orang lain, tetapi penulis hanya  memperlihatkan/menggambarkan bagaimana suatu hal yang ideal diterapkan dalam kehidupan dengan kata lain penulis bermaksud membumikan suatu hal ideal yang terlalu melangit/di awang-awang/sulit dimengerti & sulit dipraktekkan menjadi gambaran yang sederhana, mudah dimengerti & mudah dilakukan. Jadi penulis berusaha menggambarkan keindahan dari suatu impian ideal yang dibangun berdasarkan realitas/situasi & kondisi yang senyata mungkin, untuk mengajak & menginspirasi orang lain agar ikut bergabung mewujudkan impian tersebut. Jadi penulis tidaklah bermaksud mengatur orang lain tetapi mengajak & mempengaruhi orang lain, yang kemudian atas kesadarannya sendiri, mereka berubah & teratur dengan sendirinya.

Bisa jadi ada lagi yang mendebat penulis dengan mengatakan bahwa penulis menjebak mereka dalam jeratan cinta yang hanya menguntungkan penulis & merugikan mereka. Maka penulis akan berkata, bukankah sejak awal penulis tidak memaksa para perempuan tersebut untuk cinta pada penulis? Bukankah cinta itu muncul dengan sendirinya pada penulis? Katakanlah ada yang tidak ingin jatuh cinta pada penulis, tapi apakah ada yang bisa mengelak & menghindar dari cinta yang merupakan anugerah alam? Alam tidak akan memberikan rasa cinta seseorang pada orang lain tanpa alasan, entah alasan cinta itu muncul karena kelebihan fisik & materi yang dipunya/karena kecocokan psikologis/karena kekayaan hatinya. Katakanlah ada yang terlanjur terjerat cintanya penulis, tetapi, jika ada yang tidak ingin jatuh cinta pada penulis, bukankah mereka dapat pergi meninggalkan penulis & mencari pengganti penulis yang menurutnya lebih baik dari penulis? Katakanlah jika ada yang sangat mencintai penulis sehingga tidak bisa berpaling dari penulis, maka bukankah masalahnya sederhana, penulis ingin berpoligami, sehingga jika ingin tetap bersama penulis, maka relakanlah penulis untuk berpoligami. Kalau tidak rela dimadu karena merasa tersakiti & menderita jika dipoligami, maka lebih baik mereka merenungkan besarnya rasa sakit & derita yang diterima ketika memaksakan diri bersama dengan penulis yang ingin berpoligami, agar mereka bisa lebih memantapkan niat untuk berpisah dengan penulis. Jika ada lagi yang membahas hal lainnya, dalam rangka untuk mempengaruhi penulis, dengan mengatakan bahwa banyak orang yang tulus mencintai penulis bahkan di antaranya adalah berasal dari kalangan terpandang & bukan orang sembarangan, sehingga bertanya apakah tidak sayang & menyesal jika mereka akhirnya mundur karena penulis memutuskan untuk berpoligami? Penulis akan mengatakan bahwa awalnya penulis lebih condong pada monogami, dikarenakan perkembangan yang terjadi hingga saat ini, maka penulis memutuskan untuk berpoligami. Jika mereka akhirnya mundur karena keputusan penulis tersebut, maka penulis akan mempersilahkan mereka. Meskipun mereka sangat menarik karena cantik, berharta & bertahta besar, tapi penulis tidak mau terjebak lagi dalam kisah lama yang berputar-putar tanpa ujung. Jadi untuk menyederhanakan masalahnya, sekarang penulis fokus pada persoalan intinya yakni dengan pertanyaan: mau/tidak dipoligami? Jika tidak mau dipoligami berarti kita tidak sejalan, sehingga carilah pria lain yang sejalan & bisa diajak monogami. Jika bersedia dipoligami, maka mari kita bangun jalan & pikirkan bagaimana mewujudkan pernikahan poligami yang membahagiakan.

Secara ringkas tulisan ini hanya dimaksudkan untuk mendudukkan perkara pada tempat yang semestinya. Bagi para pecinta penulis yang masih bertahan, maka agar tidak terlalu sakit hati & menderita, berjuanglah untuk menghalau & bertahan menghadapi berbagai kabar miring & fitnah, walaupun harus tertatih & terjatuh, teruslah melangkah sejauh kemampuan yang dipunya sebagaimana yang telah penulis lakukan hingga mencapai posisi seperti saat ini. Jika kalian benar-benar mencintai penulis, maka seharusnya kalian tahu apa yang harus dilakukan sebagaimana yang telah penulis uraikan dalam tulisan-tulisan penulis sebelumnya. Selain itu jika cinta kalian tulus kepada penulis, maka seharusnya ulah pembenci penulis yang berusaha dengan bermacam cara untuk memisahkan kita & membuat kalian sakit hati & menderita agar menyerah, tidaklah membuat kalian mudah berputus asa karena banyak pengalaman berharga yang kita dapat di masa lalu sebagai pelajaran untuk mendewasaan diri dalam mengatasi permasalahan serupa di masa kini. Bagi yang menyerah karena sudah tidak bisa bertahan, maka agar bisa hidup tenang & bahagia, mantapkan keputusan untuk melangkah ke depan tanpa terombang-ambing lagi dalam permasalahan di masa lalu yang telah lewat. Yakinkan diri bahwa penulis bukanlah orang yang tepat untuk kalian, tetapi ada pria lain di luar sana yang lebih tepat untuk kalian. Jadi tak perlu lagi buang-buang waktu & memperumit masalah, karena solusi masalah kalian selama ini adalah sederhana, yakni kubur masa lalu, kemudian mewujudkan masa depan dengan membangun masa kini bersama pria yang bisa memberikan kebahagiaan & bukan penderitaan. Bagi pendatang baru, tujuan penulis adalah memajukan Indonesia & menikah poligami, jika ingin menjadi pendamping penulis, maka pastikan bahwa kalian siap berbagi, siap dimadu, siap diduakan, siap ditigakan, & siap diempatkan. Jika tidak siap melakukan hal tersebut, lebih baik jangan berharap & berkeinginan untuk menjadi pendamping penulis, karena seperti dalam pengalaman yang sudah pernah terjadi, memaksakan diri tanpa ada kerelaan berbagi hanya akan memberi sakit hati & derita. Lebih baik kita menjalin hubungan sebatas pertemanan & sebagai saudara sebangsa & setanah air yang saling membantu memajukan Indonesia.

INTERMEZO 2 (Membongkar persoalan & mendudukkan persoalan pada tempatnya - Bagian 1)

Seolah segala peristiwa yang selama ini telah terjadi, tidak memberikan pelajaran apa pun & bahkan permasalahan yang terkandung dalam peristiwa tersebut seolah mau diperkeruh, diaduk-aduk, & dipelintir untuk mengaburkan & menjauhkannya dari inti persoalan. Jika hal ini terjadi saat penulis masih sebagai anak kemarin sore, maka tentunya kejadian ini telah berhasil membuat orang-orang terpengaruh & terhanyut dalam isu/persoalan yang sedang dilemparkan. Dulu setiap cerita yang membentuk suatu peristiwa, dibuat secara sepihak, tanpa ada respon balik terhadap cerita tersebut, sehingga cerita-cerita itu menjadi berputar-putar tanpa solusi & berakhir dengan tidak jelas. Tetapi saat ini kejadiannya sudah berbeda, kejadian-kejadian di masa lalu yang terulang lagi di masa kini tentu akan direspon dengan sedemikian rupa agar tidak menghasilkan akhir cerita yang berbelit & tanpa solusi. Oleh karena itu penulis pernah singgung hal ini jauh-jauh hari sebelumnya melalui pertanyaan: apakah kita sadar bahwa kita sedang diamati? Meskipun tidak secara menyeluruh, orang lain akan melihat, mendengar, memperhatikan, & bahkan mengingat apa yang dikatakan & dilakukan serta peristiwa yang mengiringinya, sehingga jika orang lain tertarik pada ceritanya & mengikuti alur cerita dari awal sampai akhir, maka mereka akan merenungkannya & menilainya. Jadi jika ceritanya dibuat berputar-putar tidak jelas & tanpa solusi, maka orang-orang tersebut akan mengetahuinya. Katakanlah jika ada yang tidak mau tahu & tidak peduli dengan siapa pun yang mengamati hal itu, maka penulis akan mengingatkan & meringkaskan alur cerita yang telah terjadi sebelumnya agar dapat diketahui sampai sejauh mana perjalanan yang telah dilakukan selama ini. Mengapa penulis melakukan ini? Hal ini agar ceritanya, punya arah & tujuan yang jelas serta tidak berputar-putar & kembali/terjebak pada jalan buntu seperti dahulu.

Mari kita cermati permasalahan pada cerita yang selama ini terjadi. Permasalahannya adalah tentang hubungan percintaan antara seorang pria dengan beberapa perempuan. Meskipun jalinan cinta mereka sudah berkali-kali diakhiri karena tidak adanya kecocokan satu sama lain, tapi cerita mereka tetap tidak berakhir & selama itu pula para perempuan yang terkait di dalamnya ada yang terus merasa tersakiti. Kita fokuskan pada permasalahan: mengapa persoalan yang sudah sangat jelas, menjadi keruh, terlihat rumit & menjadi masalah yang begitu panjang tak berujung? Katakanlah pria dalam cerita itu adalah penulis, sedangkan penulis bukanlah orang yang suka memaksa orang lain untuk menjalani hubungan yang orang tersebut tidak ingin jalani. Dengan demikian, para perempuan yang merasa kecewa, terluka, & sakit hati lalu berkeinginan untuk berpisah/mengakhiri hubungan dengan penulis, maka penulis tidak akan memaksanya untuk tetap bertahan menjalani kisah cinta tersebut. Jadi para perempuan yang ingin berpisah/mengakhiri hubungan dengan penulis, maka tidak akan dihalangi penulis. Oleh karena itu bagi yang masih mempermasalahkan & memperpanjang serta memperkeruh persoalan ini (keinginan untuk berpisah), maka penulis akan berkata: Bukankah penulis tidak memaksa mereka untuk bertahan/menjalin hubungan dengan penulis? Bukankah penulis tidak menghalangi mereka untuk berpisah/mengakhiri hubungan dengan penulis? Jika mereka merasa dipaksa, maka siapa yang memaksa mereka? Karena penulis tidak memaksa mereka, maka bisa jadi ada orang lain yang mengatasnamakan penulis yang memaksa mereka untuk bertahan/bisa jadi ada orang yang menyebarkan fitnah bahwa penulis memaksa mereka untuk bertahan/bisa jadi mereka sendiri terlalu GR (Gede Rasa) yang merasa bahwa penulis memaksa mereka untuk bertahan, dsb. Dengan kata-kata penulis ini, bisa jadi ada yang protes & berkata bahwa penulis juga terlalu GR (Gede Rasa) yang merasa sok ganteng, sok segalanya, & sok sangat dicintai perempuan sehingga merasa semua perempuan mengejar-ngejarnya. Katakanlah kita sama-sama GR, jadi apakah hal ini bisa memperjelas masalah kita, sehingga ketika hubungan kita sudah berakhir, maka tidak ada lagi buntut panjang/embel-embel yang dapat memperkeruh & mengaburkan ujung/akhir masalahnya?

Mengapa penulis membahas masalah ini? Karena seperti yang telah disebut di atas & pada tulisan-tulisan penulis yang lain, apa yang dipermasalahkan & dibikin rumit ini, hanya membuang waktu kita saja. Selama ini kita hanya berputar-putar & tidak ada gerak maju yang kita lakukan. Tidak adakah hal lain yang lebih bermanfaat & lebih layak dipersoalkan? Sebagai jawabannya, sebenarnya ada persoalan yang lebih layak kita kejar & perjuangkan yakni persoalan tentang bagaimana memajukan Indonesia, yang sudah penulis tulis & kembangkan idenya pada http://majulah-indonesiaku12.blogspot.com.

Kita masuk pada pernasalahan & bahas persoalan yang terkait dengan judul tulisan ini. Pertama-tama kita bahas para perempuan yang merasa diberi harapan palsu, merasa digantung/diambangkan statusnya & semacamnya, yang bertanya-tanya & mempertanyakan kejelasan hubungan mereka dengan penulis, maka penulis akan menjawab bahwa jika mereka bertanya-tanya & mempertanyakan hal tersebut, hal itu berarti perempuan-perempuan itu belum membaca/belum memahami tulisan-tulisan penulis. Jika ada yang mengancam pergi meninggalkan penulis karena merasa diabaikan, tidak dianggap, tidak diperhatikan, & semacamnya, maka penulis akan mempersilahkannya. Bukannya penulis tidak butuh/tidak peduli dengan perempuan, tetapi penulis bukanlah orang yang suka diatur/didikte, sehingga penulis tidak akan menghalanginya, ketika ada perempuan yang mengancam pergi meninggalkan penulis karena tidak berhasil mengatur/mendikte penulis. Alasan mengapa penulis begini & begitu, sebagian besar sudah dituangkan dalam tulisan sehingga tidak ada alasan bagi para perempuan tersebut untuk mempermasalahkan hal yang penulis lakukan. Mengapa penulis seolah dengan percaya dirinya bertahan dengan sikap & apa yang dilakukannya? Hal ini karena penulis sudah sampai pada kata-kata "Inilah aku". Apakah hal ini tidak cukup menjelaskan seperti apakah diri penulis? Kemudian jika ada perempuan yang merasa didekati oleh penulis, tetapi perempuan itu tidak sedikitpun tertarik pada penulis/cinta pada penulis, lalu perempuan itu seolah-olah merasa dikejar-kejar/dipaksa oleh penulis agar jatuh cinta pada penulis, maka perasaan dikejar/dipaksa tersebut adalah perasaan yang berlebihan/GR dari perempuan tersebut, karena penulis bukanlah orang yang memaksakan cinta pada orang lain, hal ini juga berlaku untuk perempuan yang sejak awal tidak suka didekati penulis. Kemudian jika ada perempuan yang sudah menjadi milik orang lain & merasa didekati penulis, ini pun perasaan berlebihan/GR dari perempuan tersebut, karena penulis tidak tertarik pada orang yang sudah menjadi milik orang lain.

Bagi para pecinta penulis yang begitu setia menanti penulis & berharap bisa menjadi pendamping penulis hingga akhir hayatnya, maka jika para pecinta tersebut benar-benar cinta pada penulis, seharusnya mereka membaca semua tulisan penulis & memahaminya sehingga tahu apa yang dimau & diinginkan penulis serta tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi jika dalam perjalanannya, para pecinta penulis merasa kecewa, terluka, tersakiti, & menderita karena mencintai penulis, maka mari kita renungkan & pelajari apa yang sedang terjadi selama ini. Semua orang akan melalui proses alamiah yakni mengalami perkembangan biologis & psikologis. Dalam perkembangannya, ketika sudah sampai pada waktunya, maka tumbuhlah perasaan cinta kepada lawan jenis serta keinginan bersama & bersatu dengannya. Hal ini pula yang sedang terjadi pada para pecinta penulis tersebut yang membuat mereka ingin menjadi pendamping hidup penulis. Ada tahap yang dilalui untuk sampai pada tahap pernikahan/menjadi pendamping hidup, yakni perkenalan, pemantapan, & pernikahan yang masing-masing tahap dapat memiliki rentang waktu yang singkat bahkan panjang. Untuk kasus yang terjadi pada penulis, proses yang dilalui untuk sampai pada tahap pernikahan ternyata melalui jalan/alur yang berliku, penuh rintangan, tantangan, kecewa, luka, sakit hati, & derita. Padahal selama ini penulis berperilaku sebagaimana sosok yang merupakan jati diri penulis. Penulis berpikir, merasa, bersikap, & bertindak sebagaimana sosok yang ada di dalam diri penulis. Jadi mengapa mereka merasa rasa sakit hati & menderita? Apanya yang salah? Penulis bermaksud membahas hal ini adalah untuk memperjelas permasalahannya, agar pecinta penulis memiliki ketegasan untuk bertahan/mengakhiri hubungan dengan penulis serta mendapat gambaran mengenai cara & jalan melewati lika liku itu & mengatasi sakit hati & derita tersebut.

Tadi sudah disebutkan bahwa penulis berperilaku seseuai dengan jati diri yang penulis miliki & oleh karena itu seburuk-buruknya perilaku yang penulis lakukan, tidak jauh dari jati diri yang penulis punya. Kita ambil contoh, jika penulis adalah orang bodoh, maka tidak mungkin penulis menjadi orang yang jenius dalam waktu singkat. Begitupun jika penulis adalah orang yang jahat, maka tidak mungkin penulis menjadi orang suci dalam waktu singkat. Tapi jika hal itu dilakukan secara sandiwara, berpura-pura, menipu diri & orang lain, & semacamnya, maka mungkin saja terjadi perubahan kepribadian yang sangat besar dalam waktu singkat. Jika penulis dianggap sebagai orang yang seperti itu, maka hal itu berarti bahwa para pecinta penulis tidak memiliki alasan untuk mencintai penulis karena para pecinta tersebut sebenarnya mencintai topeng penulis yang palsu & bukan diri penulis yang sejatinya. Jika mereka masih tetap bertahan & mencintai penulis meskipun mereka tahu penulis pakai topeng, maka kita perlu telusuri lagi mengapa itu bisa terjadi? Hal itu bisa terjadi karena: 1) para pecinta tersebut terjerat oleh cinta buta, di mana mereka tetap cinta walaupun penulis berperilaku jahat & seenaknya. Tapi berdasarkan kenyataan, cinta semacam ini tidak akan bertahan lama. Suatu saat ketika para pecinta tersebut membuka matanya/sadar, maka cintanya pun akan hilang karena penulis berbuat jahat & seenaknya. 2) para pecinta tersebut terjerat sandiwara cinta, di mana karena kemahiran penulis dalam bermain bersandiwara sehingga berhasil menipu & menjebak mereka berulangkali. Tapi berdasarkan kenyataan, cinta semacam ini pun tidak akan bertahan lama. Suatu ketika saat kedok & kebohongan penulis terbongkar, maka cinta mereka pun akan hilang. 3) para pecinta tersebut terjerat kisah kebodohan cinta, di mana karena kebodohan & ketidaktahuan para pecinta, penulis dapat dengan mudah memperdayai & menjerat mereka dalam jaring-jaring cinta penulis. Tapi berdasarkan kenyataan, cinta ini pun tidak akan bertahan lama. Suatu ketika saat para pecinta tersebut bertambah pintar, maka mereka tidak bisa diperdayai lagi & cinta mereka pun akan hilang. Ketika penulis berbuat seperti salah satu di antara ke tiga hal di atas, maka para pecinta tersebut akan merasa kecewa, terluka, sakit hati, & menderita. Tapi ada kemungkinan ke-4 yang berbeda dengan beberapa kemungkinan di atas, yakni penulis malah dengan berani menyatakan seperti apa dirinya yang diringkasnya melalui kata-kata "Inilah Aku" & berani mengakui kesalahan, keburukan, kelemahan, & kekurangannya. Jika masih ada yang tetap cinta pada penulis meskipun merasa tersakiti & menderita, maka akan timbul pertanyaan, mengapa hal ini terjadi? Bukankah seharusnya cinta para pecinta tersebut hilang ketika tahu segala keburukan penulis? & bukankah seharusnya cinta dapat membuat kita bahagia & membuat hidup menjadi lebih indah, tapi mengapa malah terjadi sebaliknya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita bahas terlebih dahulu bagaimana cara & jalan yang ditempuh oleh penulis & para pecinta penulis dalam menjalin hubungan. Selama ini cara & jalan yang ditempuh adalah dengan menjalin hubungan secara tidak langsung atau menjalin hubungan melalui jarak yang jauh, melalui orang lain, melalui media lain & berbagai perantara lain yang memisahkan & menghalangi penulis & para pecinta penulis untuk berhubungan secara langsung. Kita anggap bahwa penulis & para pecinta penulis sudah saling memahami satu sama lain. Tetapi mengapa ketika penulis berperilaku sebagaimana yang biasa penulis lakukan, tiba-tiba para pecinta tersebut merasa tersakiti & menderita? Bukankah hal ini aneh? Apakah penulis yang kurang memahami mereka/mereka yang kurang memahami penulis, sehingga mereka harus tersakiti & menderita karena apa yang dilakukan penulis? Katakanlah penulis yang kurang memahami mereka, jika demikian maka bukankah seharusnya rasa cinta mereka berkurang/bahkan hilang terhadap penulis ketika terus tersakiti & menderita? Jika tetap ada yang masih cinta pada penulis meskipun merasa tersakiti & menderita, maka kemungkinannya adalah yang dicintai mereka, sebenarnya bukan penulis, tetapi orang yang mirip dengan penulis. Jika demikian, maka mereka harus segera sadar & cari orang lain yang sebenarnya mereka cintai. Jika ada yang tetap bersikukuh bahwa memang penulislah yang benar-benar dicintai mereka, lalu mengapa masih merasa tersakiti & menderita? Kemungkinan alasan mengapa mereka tersakiti & menderita adalah karena kesalah pahaman & bercampur aduknya kabar asli dengan kabar fitnah yang disebarluaskan oleh pembenci penulis yang membuat para pecinta penulis terus merasa tersakiti & menderita. Jadi hal ini berarti bahwa bukan penulis yang menyakiti & membuat mereka menderita tetapi kesalah pahaman & pencampur adukan kabar asli & fitnah yang disebarluaskan para pembenci penulis-lah yang menyebabkan masalah menjadi rumit & berputar-putar tidak karuan.

Kita telah bahas beberapa kemungkinan alasan mengapa para pecinta penulis merasa tersakiti & menderita, untuk selanjutnya kita bahas persoalan tentang orang yang mendebat penulis karena penulis menceritakan cerita-cerita indah tentang impian penulis melalui tulisan. Orang tersebut mengatakan bahwa penulis tidak realistis, muluk-muluk, & tukang mimpi yang hanya mengucapkan omong kosong. Kepada orang tersebut, penulis akan menjelaskan perbedaan antara tukang mimpi & penulis mimpi. Tukang mimpi hanya bermimpi & mimpi tersebut hanya untuk dirinya saja. Sedangkan penulis mimpi, di samping dia punya mimpi tentang dirinya, dia pun menulis mimpinya untuk dibagikan pada orang lain. Karena orang lain ikut membaca tulisannya, maka untuk melengkapi & memperkaya tulisannya, penulis pun mengikutsertakan orang lain dalam mimpinya. & itu artinya mimpinya tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Oleh karena itu, impian penulis tersebut punya manfaat bagi orang lain, yang mana di samping impian tersebut ditulis untuk berbagi dengan orang lain tapi juga untuk menginspirasi orang lain. Jika ada yang masih tidak terima dengan tulisan penulis yang menceritakan impian penulis karena terlalu berlebihan & kenyataannya tak seindah seperti yang digambarkan penulis, maka mengapa orang tersebut tidak menuliskan impiannya sendiri seindah mungkin untuk dibagikan kepada orang lain? Bukankah impian yang indah, sedikit banyak akan memberikan inspirasi kepada para pembacanya? Jika masih mendebat hal ini, maka penulis akan mengatakan bahwa, bukankah tiap orang punya impian masing-masing & impian tersebut adalah sesuatu yang indah? Yang membedakan di antara sekian banyak orang yang bermimpi adalah tidak semua orang mampu menggambarkan & menuliskan/menyatakan impiannya agar bisa dibaca & diketahui orang lain. Bukankah tidak ada orang yang melarang anda, penulis & siapapun untuk bermimpi seindah mungkin?

Monday, 21 December 2015

Apresiasi ketegasan Gubernur Ahok & kritik agar Gubernur Ahok lebih arif dalam mengayomi rakyat kecil

Di antara sekian banyak pemimpin Indonesia, salah satu orang yang banyak menarik perhatian publik adalah Gubernur Ahok. Beberapa waktu lalu ada satu peristiwa yang terkait dengan kontroversi Gubernur Ahok yakni saat digugat 100 milyar oleh seorang wanita karena merasa dicemarkan nama baiknya ketika disebut maling oleh ahok & karena anak wanita tersebut trauma dengan perlakuan tersebut. Banyak sikap & kata-kata yang dilontarkannya tidak jarang menimbulkan kontroversi di depan publik. Dia tak segan-segan membuat keputusan tegas walaupun harus berlawanan dengan orang banyak bahkan pernah terjadi dia berseberangan dengan partai pengusungnya yang membuatnya memutuskan untuk ke luar dari partai tersebut sehingga sampai beredar isu bahwa keputusannya ke luar dari partai bakal menyulitkan sepak terjang politiknya dalam menjalankan pemerintahannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Tetapi berkat sikap tegasnya yang berani membuat gebrakan walaupun harus mendobrak kebiasaan lama, membuat Gubernur Ahok mendapat simpati dari kalangan rakyat maupun pejabat & wakil rakyat. Selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, ada beberapa perbaikan yang telah dilakukannya melalui sikap tegasnya dalam membuat keputusan & memastikan keputusan itu terlaksana di lapangan, apa yang dilakukannya ini membuat orang-orang segan terhadapnya tapi tak sedikit pula orang-orang yang tidak suka padanya & berusaha mencari titik lemahnya serta menjatuhkannya dengan hal tersebut. Tapi dengan kemampuannya dalam berpolitik & memanfaatkan peluang, hal-hal tersebut tidak menjadi penghalang yang berarti untuk terus melenggang dalam mengatur & membuat kota Jakarta menjadi seperti apa yang jadi visi & misinya. Tidak ada pemimpin yang sempurna, sehingga di samping kelebihan-kelebihannya, pasti ada kekurangan yang dimilikinya. Oleh karena itu, pada diri Gubernur Ahok, kita patut mengapresiasi ketegasannya dalam memimpin Jakarta, meskipun ada juga kebijakannya yang kontroversial yang berlindung di balik undang-undang untuk menggolkan kepentingan pihak tertentu.

Visi & misi Gubernur Ahok bisa dilihat dari latar belakangnya, sebagai contohnya, di sini dikemukakan visi & misi penulis, jika dilihat dari latar belakangnya, penulis pernah memiliki pengalaman dengan beberapa perempuan & ketertarikan pada kemajuan Indonesia, sehingga visi & misi penulis adalah tentang berpoligami & memajukan Indonesia yang bisa pembaca lihat uraian & gambarannya pada http://duniataufiq.blogspot.com & http://majulah-indonesiaku12.blogspot.com. Secara sederhana, visi adalah impian yang ingin kita capai/wujudkan sedangkan misi adalah cara/jalan yang kita tempuh untuk mencapai/mewujudkan impian tersebut. Jika diuraikan secara sekilas, untuk mencapai/mewujudkan impian penulis & menjalankan misi penulis dalam memajukan Indonesia, maka penulis terjun ke dunia tulis menulis. Penulis menuangkan ide & pemikirannya ke dalam tulisan mengenai gerakan memajukan Indonesia. Penulis membuat tulisan-tulisan tersebut dalam rangka menggugah & menyadarkan para pembaca untuk bangun & bergerak memajukan Indonesia. Sehingga harapannya setelah membaca tulisan penulis, para pembaca dapat tergugah & tersadar untuk melakukan gerakan memajukan Indonesia. Begitupun dalam hal poligami, setelah membaca tulisan yang penulis buat, para pembaca diharapkan dapat menyadari bahwa poligami merupakan solusi bagi para pria yang ingin memiliki beberapa perempuan sekaligus tanpa harus melakukan perselingkuhan. Dengan demikian, jika ingin mengetahui visi & misi Gubernur Ahok, dapat dilihat dari latar belakang agama, ras, & status sosialnya. Dari hal itu kita akan memahami mengapa Gubernur Ahok membuat kebijakan kontroversial yang tidak populer bagi pihak tertentu, yang dilakukan demi tercapainya visi & terlaksananya misi yang dia punya.

Jika berpegang pada pedoman bahwa setiap warga berkedudukan sama di mata hukum & akan mendapat perlakuan yang sama sesuai dengan hak & kewajibannya masing-masing, maka warga Jakarta yang berada di bawah naungan kepemimpinan Gubernur Ahok, berhak diperlakukan secara adil & tanpa berat sebelah. Oleh karena itu warga Jakarta berharap tidak ada perlakuan pilih kasih yang membatasi gerak pihak tertentu & melonggarkan pihak yang lain karena Gubernur Ahok adalah milik rakyat Jakarta seluruhnya & bukan milik kalangan tertentu saja. Gubernur Ahok adalah milik kalangan mayoritas & sekaligus milik kalangan minoritas. Gubernur Ahok harus memperjuangkan kepentingan masyarakat mayoritas & juga memperjuangkan kepentingan masyarakat minoritas. Gubernur Ahok harus membela hak golongan mayoritas maupun golongan minoritas. Gubernur Ahok diharapkan tidak pandang bulu dalam mengatur & memimpin semua warga Jakarta yang terdiri dari beragam agama, suku, ras, baik yang mayoritas maupun yang minoritas, karena warga Jakarta & orang Indonesia lainnya disatukan oleh semboyan bhineka tunggal ika yakni berbeda-beda tetapi tetap satu. Perbedaan yang ada, tidak membuat kita terpecah belah tetapi perbedaan itu kita gunakan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain dalam mencapai kemajuan di Jakarta & di seluruh Indonesia.

Selain kontroversi kebijakan yang dilakukan dalam mencapai visi & melaksanakan misinya seperti yang telah disebutkan di atas, sikap Gubernur Ahok dalam menanggapi permasalahan juga tidak sedikit yang menimbulkan kontroversi. Jika diibaratkan, rakyat kecil laksana anak bagi pemimpinnya yang butuh dibimbing & diarahkan. Jika ada anak kecil yang nakal, apakah anak kecil tersebut serta merta langsung diberi hukuman berat ketika berbuat salah? Bagi rakyat biasa yang berpendidikan & hidup berkecukupan, ketika melakukan kesalahan di hadapan pemimpinnya, mereka masih bisa mengelak & membela diri, tapi bagi rakyat kecil yang lemah & hidup berkekurangan mana bisa mereka mengelak & membela dirinya ketika berbuat kesalahan? Katakanlah rakyat kecil tersebut masih bisa mengelak & membela diri, tapi bukankah jika dibandingkan dengan wewenang & kuasa yang dimiliki oleh pemimpin tersebut, rakyat kecil tetaplah rakyat kecil yang lemah & tak berdaya? Lalu apakah seorang pemimpin masih tega menghukum rakyat kecil yang lemah & tak berdaya untuk suatu masalah yang masih bisa diabaikan & tidak perlu ditanggapi secara serius?

Kasus gugatan 100 milyar kepada Gubernur Ahok oleh seorang wanita yang merasa dicemarkan nama baiknya, tidak sampai terjadi seandainya Gubernur Ahok pada waktu itu tidak mudah terpancing emosinya. Tapi apa mau dikata, karena Gubernur Ahok terkenal dengan ceplas ceplosnya & sikap emosionalnya, maka terjadilah peristiwa ucapan kata-kata Ahok yang menyudutkan si wanita yang dianggap wanita tersebut sebagai pencemaran nama baik. Sebagai kepala pemerintah tingkat provinsi, sikap & kata-kata Ahok kepada wanita tersebut yang hanya sebagai rakyat kecil & bukan siapa-siapa, terlihat terlalu berlebihan. Jika diumpamakan sang pemimpin sebagai bapak & sang rakyat kecil sebagai anak, maka ketika sang anak berbuat salah, apakah sang bapak harus memarahinya habis-habisan & memberinya hukuman berat? Bagi sang anak, diperlakukan dengan cara mendiamkannya/tidak mengajaknya bicara saja sudah merupakan hukuman yang berat, apalagi jika sampai dimarahi & dihukum yang merupakan hukuman sangat berat, yang hanya pantas diberikan untuk kesalahan yang sangat fatal. Jadi jika ada rakyat kecil yang melakukan kesalahan kecil & tidak penting, seyogyanya Gubernur Ahok dapat lebih menahan diri & kontrol emosi agar dapat bersikap arif dalam mengayomi rakyat kecil yang masih butuh bimbingan & arahan.

Sikap tegas & serius Gubernur Ahok lebih pantas ditujukan untuk permasalahan penting serta terhadap kalangan berpendidikan & mapan yang melakukan pelanggaran, bukannya ditujukan untuk permasalahan yang bisa diabaikan serta terhadap rakyat kecil yang lemah & tidak berdaya. Rakyat kecil yang lemah & tidak berdaya meskipun terkadang dapat memancing emosi tetapi bagi seorang pemimpin yang arif, maka ia akan menghadapinya dengan sikap sopan & penuh simpati. Pemimpin tersebut akan berusaha mendengar keluhan-keluhan rakyat kecil tersebut & mencoba menenangkan gejolak batinnya atas ketidakpuasan yang dirasakannya untuk kemudian dicarikan solusi dalam mengatasi permasalahan yang sedang dialaminya tersebut. Bagi seorang Gubernur yang memiliki wewenang & kuasa besar, bukankah masalah kecil yang dialami rakyat kecil tersebut adalah sesuatu yang mudah untuk ditangani? Jika sejak awal sang Gubernur menyisihkan emosinya sejenak & bersikap arif, maka rakyat kecil tersebut bisa diberi penjelasan yang dapat dipahaminya, untuk membimbing & mengarahkannya kepada apa yang seharusnya dia lakukan. Jika Gubernur Ahok dapat bersikap arif & adil dalam mengayomi seluruh rakyatnya, maka dirinya akan menjadi sosok pemimpin ideal yang dimpikan oleh rakyatnya. Jika hal ini terjadi & seluruh pemimpin daerah di negeri kita juga melakukan hal yang sama, maka impian untuk memajukan Jakarta & daerah masing-masing, ada di depan mata, & kita tinggal menggapainya  untuk meraih impian yang lebih besar lagi yakni untuk memajukan Indonesia.

Tuesday, 8 December 2015

Masa depan daerah dalam PILKADA 9 Desember 2015

Sampai sejauh ini, sejumlah daerah di Indonesia telah mengalami beberapa pergantian pemimpin. Bagi daerah yang telah berusia puluhan tahun, hal ini berarti sederet pemimpin telah secara estafet memimpin daerah tersebut menurut gaya kepemimpinan masing-masing. Tentu di antara sederet pemimpin tersebut ada yang telah berhasil membangun serta memajukan daerahnya. Jika kita mengingat kembali keberhasilan pemimpin yang telah membangun & memajukan daerah kita, maka kita pun akan berharap dipimpin lagi oleh pemimpin yang mengerti situasi & keadaan daerahnya agar dapat membangun & memajukan daerah yang dipimpinnya. Begitupun daerah yang baru terbentuk juga berharap dipimpin oleh pemimpin seperti pemimpin daerah lain yang telah berhasil membangun & memajukan daerahnya. Mengapa kita menginginkan pemimpin seperti itu? Karena pembangunan & kemajuan daerah ditentukan oleh bagaimana sang pemimpin mengatur & mengelola daerahnya agar dapat mendayagunakan potensi daerah yang ada untuk lebih mensejahterakan rakyatnya.

Lalu kita sekarang berkaca pada realitas yang terjadi di lapangan. Pada umumnya harta & kekuasaan saling berkaitan erat bahkan jika disebut secara lengkap wanita pun juga ikut terkait. Mengapa wanita juga terkait? Karena harta, tahta, & wanita adalah tiga serangkai yang saling terkait. Di mana ada harta/tahta maka di situ ada wanita. Mengapa wanita terkait dengan harta/tahta? Karena secara kodrat, wanita adalah pihak yang menerima harta dari pria & pihak lemah yang takluk pada kuasa pria, terlepas dari realitas yang menunjukkan bahwa terjadi hal yang sebaliknya seperti: pria berharta & berkuasa takluk pada wanita, itu adalah persoalan lain. Apa kaitan hal ini dengan PILKADA? Sudah umum diketahui bahwa daya tarik kekuasaan pada Pemerintahan Daerah begitu besar sehingga menjadi rebutan banyak pihak yang punya kepentingan di dalamnya, baik itu kepentingan pribadi/kelompok maupun kepentingan rakyat. Bagi pihak yang memiliki kecenderungan pada kepentingan pribadi/kelompok lebih besar dibanding kepentingan rakyat, maka tujuan menduduki tampuk kepemimpinan di daerahnya adalah untuk memperbesar kekuasaannya & memperbanyak harta yang dimilikinya secara mudah & cepat. Sedangkan yang berjuang untuk kepentingan rakyat, tentunya bertujuan untuk mewujudkan impiannya/idealismenya dalam membangun & memajukan daerahnya serta mensejahterakan rakyatnya sebagai bentuk ketinggian budi pekerti, kebanggaan, & kepuasan yang dapat dikenang sejarah ketika berhasil mewujudkan mimpinya.

Katakanlah di jaman sekarang, masih langka pemimpin yang benar-benar berjuang demi kepentingan rakyat, maka jika kita merenung & bertanya pada diri sendiri, sebenarnya kita semua memiliki rasa bangga & kepuasan ketika berhasil mencapai puncak kesuksesan, apalagi jika kesuksesan tersebut adalah keberhasilannya dalam membangun & memajukan daerahnya. Pada saat itu, kita akan dianggap sebagai pahlawan oleh banyak orang & dikenang sejarah sebagai orang yang berjasa dalam pembangunan & kemajuan daerahnya. Tidakkah kita menyadari kebanggaan & kepuasan akan pencapaian puncak kesuksesan ini? Tulisan ini mencoba menerangi alam pemikiran para pemimpin/calon pemimpin daerah & memperjelas persoalan tentang apa yang sebenarnya kita semua ingin cari & raih dalam hidup ini. Apakah harta? Tahta? Atau wanita? Ya, kita ingin mendapatkan harta, tahta, & wanita, tetapi sebenarnya yang lebih kita inginkan adalah mencapai puncak kesuksesan yakni menjadi seseorang yang berguna/berjasa bagi banyak orang & dikenang sejarah, yang dapat memberikan kebanggaan & kepuasan melebihi harta, tahta, & wanita. Sebagai bahan renungan, coba kita bayangkan apakah kita bisa bangga & puas ketika kita telah menggenggam matahari & bulan serta memiliki kekuasaan yang sangat besar? Jawabnya adalah kita tidak akan pernah bisa merasa bangga & puas dengan hal seperti itu, tetapi yang lebih membanggakan & memuaskan diri kita adalah kesuksesan menjadi orang yang berguna/berjasa bagi orang lain.

Dari penjelasan di atas, apakah para pemimpin & calon pemimpin rakyat masih mengejar-ngejar harta, tahta, & wanita yang tidak akan pernah memberi kepuasan pada kita sampai kapan pun? Mari kita sadar akan hal ini. Kebanggaan & kepuasan meraih harta, tahta, & wanita yang banyak, hanyalah sementara & akan berakhir ketika harta, tahta, & wanita yang kita miliki berkurang/hilang. Berbeda ketika kita telah sukses menjadi orang yang berguna/berjasa bagi banyak orang, maka kebanggaan & kepuasan yang kita rasakan akan terus melekat sepanjang hidup kita bahkan sampai berdampak pada anak cucu kita. Sebagai contohnya adalah sosok Presiden Sukarno, tokoh besar salah satu pendiri negara Indonesia yang hingga saat ini sosoknya masih sangat dihormati & pengaruhnya di negara kita bahkan di dunia, masih dapat dirasakan. Apakah tidak ada keinginan yang terbersit dalam benak kita untuk menjadi seperti beliau yang berjasa besar bagi bangsa & negaranya yang dikenang sejarah sebagai pahlawan serta masih dihormati & memiliki pengaruh hingga saat ini walaupun beliau sudah tiada? Mari kita renungkan & sadari apa yang sebenarnya ingin kita cari & raih serta yang pantas & layak kita perjuangkan. Saatnya kita berbenah & menjadikan PILKADA 9 Desember 2015 sebagai tonggak kebangkitan tiap daerah dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Bagi rakyat yang turut serta dalam menentukan pilihannya pada PILKADA 9 Desember 2015, pengalaman yang selama ini kita rasakan di bawah kepemimpinan sejumlah pemimpin di masa lalu seharusnya menyadarkan kita bahwa sosok pemimpin yang memihak rakyat adalah hal yang paling penting dalam satu periode pemerintahan daerah kita. Jika sosok pemimpin daerah kita tidak dapat membangun & memajukan daerahnya tapi malah membiarkan & bahkan membuat masalah di daerah kita, maka pada akhirnya yang susah adalah rakyat sendiri. Oleh karena itu, suara rakyat walaupun cuma satu/beberapa orang saja, sangatlah menentukan masa depan daerah kita dalam satu periode pemerintahan ke depan. Pada PILKADA serentak 9 Desember 2015 ini, pilihan kita jangan mau lagi dipengaruhi oleh sejumlah materi yang sangatlah kecil jika dibandingkan ratusan hingga milyaran rupiah uang rakyat yang bakal bocor & dinikmati segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Apakah kita sebagai rakyat, tidak sadar dengan hal ini? Apakah kita akan menyerahkan daerah kita kepada pemimpin yang tidak memihak rakyat? Apakah kita akan membiarkan segelintir orang menikmati uang rakyat yang begitu besar sedangkan rakyat hanya bisa menyaksikan & diam tak berdaya menjalani kehidupan yang susah tanpa perhatian & dukungan pemerintah dalam mengatasi & menyelesaikan masalah yang dialami rakyat? Tidak. Kita harus menyadari hal ini & kita akan memberikan suara kita pada pemimpin yang benar-benar memihak rakyat demi kemajuan & masa depan daerah yang lebih baik.