Tuesday, 8 December 2015

Masa depan daerah dalam PILKADA 9 Desember 2015

Sampai sejauh ini, sejumlah daerah di Indonesia telah mengalami beberapa pergantian pemimpin. Bagi daerah yang telah berusia puluhan tahun, hal ini berarti sederet pemimpin telah secara estafet memimpin daerah tersebut menurut gaya kepemimpinan masing-masing. Tentu di antara sederet pemimpin tersebut ada yang telah berhasil membangun serta memajukan daerahnya. Jika kita mengingat kembali keberhasilan pemimpin yang telah membangun & memajukan daerah kita, maka kita pun akan berharap dipimpin lagi oleh pemimpin yang mengerti situasi & keadaan daerahnya agar dapat membangun & memajukan daerah yang dipimpinnya. Begitupun daerah yang baru terbentuk juga berharap dipimpin oleh pemimpin seperti pemimpin daerah lain yang telah berhasil membangun & memajukan daerahnya. Mengapa kita menginginkan pemimpin seperti itu? Karena pembangunan & kemajuan daerah ditentukan oleh bagaimana sang pemimpin mengatur & mengelola daerahnya agar dapat mendayagunakan potensi daerah yang ada untuk lebih mensejahterakan rakyatnya.

Lalu kita sekarang berkaca pada realitas yang terjadi di lapangan. Pada umumnya harta & kekuasaan saling berkaitan erat bahkan jika disebut secara lengkap wanita pun juga ikut terkait. Mengapa wanita juga terkait? Karena harta, tahta, & wanita adalah tiga serangkai yang saling terkait. Di mana ada harta/tahta maka di situ ada wanita. Mengapa wanita terkait dengan harta/tahta? Karena secara kodrat, wanita adalah pihak yang menerima harta dari pria & pihak lemah yang takluk pada kuasa pria, terlepas dari realitas yang menunjukkan bahwa terjadi hal yang sebaliknya seperti: pria berharta & berkuasa takluk pada wanita, itu adalah persoalan lain. Apa kaitan hal ini dengan PILKADA? Sudah umum diketahui bahwa daya tarik kekuasaan pada Pemerintahan Daerah begitu besar sehingga menjadi rebutan banyak pihak yang punya kepentingan di dalamnya, baik itu kepentingan pribadi/kelompok maupun kepentingan rakyat. Bagi pihak yang memiliki kecenderungan pada kepentingan pribadi/kelompok lebih besar dibanding kepentingan rakyat, maka tujuan menduduki tampuk kepemimpinan di daerahnya adalah untuk memperbesar kekuasaannya & memperbanyak harta yang dimilikinya secara mudah & cepat. Sedangkan yang berjuang untuk kepentingan rakyat, tentunya bertujuan untuk mewujudkan impiannya/idealismenya dalam membangun & memajukan daerahnya serta mensejahterakan rakyatnya sebagai bentuk ketinggian budi pekerti, kebanggaan, & kepuasan yang dapat dikenang sejarah ketika berhasil mewujudkan mimpinya.

Katakanlah di jaman sekarang, masih langka pemimpin yang benar-benar berjuang demi kepentingan rakyat, maka jika kita merenung & bertanya pada diri sendiri, sebenarnya kita semua memiliki rasa bangga & kepuasan ketika berhasil mencapai puncak kesuksesan, apalagi jika kesuksesan tersebut adalah keberhasilannya dalam membangun & memajukan daerahnya. Pada saat itu, kita akan dianggap sebagai pahlawan oleh banyak orang & dikenang sejarah sebagai orang yang berjasa dalam pembangunan & kemajuan daerahnya. Tidakkah kita menyadari kebanggaan & kepuasan akan pencapaian puncak kesuksesan ini? Tulisan ini mencoba menerangi alam pemikiran para pemimpin/calon pemimpin daerah & memperjelas persoalan tentang apa yang sebenarnya kita semua ingin cari & raih dalam hidup ini. Apakah harta? Tahta? Atau wanita? Ya, kita ingin mendapatkan harta, tahta, & wanita, tetapi sebenarnya yang lebih kita inginkan adalah mencapai puncak kesuksesan yakni menjadi seseorang yang berguna/berjasa bagi banyak orang & dikenang sejarah, yang dapat memberikan kebanggaan & kepuasan melebihi harta, tahta, & wanita. Sebagai bahan renungan, coba kita bayangkan apakah kita bisa bangga & puas ketika kita telah menggenggam matahari & bulan serta memiliki kekuasaan yang sangat besar? Jawabnya adalah kita tidak akan pernah bisa merasa bangga & puas dengan hal seperti itu, tetapi yang lebih membanggakan & memuaskan diri kita adalah kesuksesan menjadi orang yang berguna/berjasa bagi orang lain.

Dari penjelasan di atas, apakah para pemimpin & calon pemimpin rakyat masih mengejar-ngejar harta, tahta, & wanita yang tidak akan pernah memberi kepuasan pada kita sampai kapan pun? Mari kita sadar akan hal ini. Kebanggaan & kepuasan meraih harta, tahta, & wanita yang banyak, hanyalah sementara & akan berakhir ketika harta, tahta, & wanita yang kita miliki berkurang/hilang. Berbeda ketika kita telah sukses menjadi orang yang berguna/berjasa bagi banyak orang, maka kebanggaan & kepuasan yang kita rasakan akan terus melekat sepanjang hidup kita bahkan sampai berdampak pada anak cucu kita. Sebagai contohnya adalah sosok Presiden Sukarno, tokoh besar salah satu pendiri negara Indonesia yang hingga saat ini sosoknya masih sangat dihormati & pengaruhnya di negara kita bahkan di dunia, masih dapat dirasakan. Apakah tidak ada keinginan yang terbersit dalam benak kita untuk menjadi seperti beliau yang berjasa besar bagi bangsa & negaranya yang dikenang sejarah sebagai pahlawan serta masih dihormati & memiliki pengaruh hingga saat ini walaupun beliau sudah tiada? Mari kita renungkan & sadari apa yang sebenarnya ingin kita cari & raih serta yang pantas & layak kita perjuangkan. Saatnya kita berbenah & menjadikan PILKADA 9 Desember 2015 sebagai tonggak kebangkitan tiap daerah dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Bagi rakyat yang turut serta dalam menentukan pilihannya pada PILKADA 9 Desember 2015, pengalaman yang selama ini kita rasakan di bawah kepemimpinan sejumlah pemimpin di masa lalu seharusnya menyadarkan kita bahwa sosok pemimpin yang memihak rakyat adalah hal yang paling penting dalam satu periode pemerintahan daerah kita. Jika sosok pemimpin daerah kita tidak dapat membangun & memajukan daerahnya tapi malah membiarkan & bahkan membuat masalah di daerah kita, maka pada akhirnya yang susah adalah rakyat sendiri. Oleh karena itu, suara rakyat walaupun cuma satu/beberapa orang saja, sangatlah menentukan masa depan daerah kita dalam satu periode pemerintahan ke depan. Pada PILKADA serentak 9 Desember 2015 ini, pilihan kita jangan mau lagi dipengaruhi oleh sejumlah materi yang sangatlah kecil jika dibandingkan ratusan hingga milyaran rupiah uang rakyat yang bakal bocor & dinikmati segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Apakah kita sebagai rakyat, tidak sadar dengan hal ini? Apakah kita akan menyerahkan daerah kita kepada pemimpin yang tidak memihak rakyat? Apakah kita akan membiarkan segelintir orang menikmati uang rakyat yang begitu besar sedangkan rakyat hanya bisa menyaksikan & diam tak berdaya menjalani kehidupan yang susah tanpa perhatian & dukungan pemerintah dalam mengatasi & menyelesaikan masalah yang dialami rakyat? Tidak. Kita harus menyadari hal ini & kita akan memberikan suara kita pada pemimpin yang benar-benar memihak rakyat demi kemajuan & masa depan daerah yang lebih baik.

Monday, 7 December 2015

Membangkitkan mental juara pemain bola Indonesia

Penulis tidak membahas permasalahan yang sedang terjadi antara pemerintah & PSSI serta perkembangan sanksi FIFA. Tetapi penulis lebih memfokuskan pokok bahasan pada membangkitkan semangat sepak bola Indonesia untuk meraih prestasi. Dalam tulisan ini kita kesampingkan masalah yang sedang dialami dunia sepak bola Indonesia & mengalihkan perhatian kita pada usaha menemukan mental juara yang masih terpendam di alam pikiran kita. Untuk itu mari kita cari, telusuri & renungkan, di manakah letak mental juara itu di alam pikiran kita agar kita dapat menemukannya & menggunakannya untuk meraih prestasi. Mental juara yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang dapat membuat kita terdorong untuk terus maju & pantang menyerah. Di sini, kita sebut sesuatu itu sebagai kepercayaan diri. Kepercayaan diri tersebut tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus kita cari & temukan. Kepercayaan diri itu biasanya terletak di dalam hal-hal yang menjadi minat-bakat & bidang yang dikuasai. Mengapa? Karena kita yakin bisa melakukan sesuatu dengan baik untuk hal-hal yang menjadi minat-bakat & bidang yang kita kuasai. Kepercayaan diri inilah yang merupakan mental juara yang akan membuat kita terdorong untuk terus maju & pantang menyerah. Sebelum masuk ke dalam pembahasan, kita baca terlebih dahulu pengantar tuisan sebagai berikut.

Olah raga paling populer yang mampu menjangkau ke hampir seluruh lapisan masyarakat adalah sepak bola. Lapisan masyarakat kalangan atas hingga kalangan paling bawah mengenal sepak bola & sebagian besar dari mereka suka bermain sepak bola atau minimal suka menonton orang bermain sepak bola. Meskipun penggemar sepak bola kebanyakan adalah kaum pria, tetapi tidak sedikit penggemar sepak bola yang berasal dari kaum perempuan, terlepas motif sebenarnya adalah karena menggemari para pemain sepak bolanya yang berwajah tampan & berbadan atletis. Cara melakukan permainan tersebut pun cukup mudah & sederhana, kita cukup sediakan sebuah bola & sebidang tanah lapang serta beberapa pemain, maka permainan pun bisa langsung dimulai. Pemain di ke dua belah pihak saling berebut bola dengan menendangnya & berusaha memasukkannya ke gawang lawan. Kemudahan & kesederhanaan permainan inilah yang menjadi daya tarik sepak bola, ditambah lagi keseruan & keasyikan perebutan bola di antara para pemain menjadi hiburan tersendiri di samping aspek yang menyehatkan yang didapat ketika melakukan olah raga ini.

Dengan adanya daya tarik permainan sepak bola yang begitu luas terhadap berbagai lapisan masyarakat yang ada, maka tidak heran jika sepak bola menjadi lahan bisnis yang besar. Para pengusaha besar yang memahami peluang besar ini akan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk mendulang uang sebanyak-banyaknya dalam bisnis yang terkait dengan dunia sepak bola tersebut. Kita ambil contoh dunia sepak bola yang ada di negara-negara maju di daratan Eropa, gaji pemain bola papan atas yang ada di sana memiliki nominal hingga milyaran rupiah per minggu. Dapat dibayangkan betapa besarnya daya tarik pemain sepak bola di sana, sehingga bisa memperoleh bayaran sampai bernilai milyaran rupiah. Karena kualitas para pemainnya yang begitu tinggi, maka semua produk/pernak-pernik yang dikaitkan dengan para pemain/suatu klub akan laris manis terjual. Oleh karena begitu banyak sponsor & pernak-pernik yang dikaitkan dengan mereka, membuat kita dapat memaklumi bagaimana para pemain tersebut bisa memperoleh gaji yang sangat tinggi.

Itu adalah sekilas pandang sepak bola dunia di daratan eropa, sekarang kita beralih ke sepak bola Indonesia. Di indonesia, gaji pemain sepak bola yang bisa menyentuh angka milyar rupiah hanyalah para pemain papan atas, itu pun adalah gaji untuk setahun. Jadi dapat kita bayangkan bahwa perbedaan kemampuan pemain Indonesia jika dibandingkan dengan pemain sepak bola daratan eropa masih sangat jauh. Lalu apakah pemain bola Indonesia harus puas sampai di situ saja? Apakah tidak terbersit dalam benak kita untuk paling tidak mengejar ketertinggalan kita sedikit demi sedikit dengan mereka? Katakanlah, terlalu jauh jika kita membandingkan sepak bola kita dengan negara maju, kita berpikir lebih realistis saja. Kenyataannya adalah klub-klub sepak bola Indonesia mengimpor beberapa pemain asing untuk memperkuat tim sepak bola mereka, apa artinya ini? Apakah itu artinya pemain Indonesia masih kalah dibanding pemain asing? Katakanlah pemain asing dapat dinaturalisasikan menjadi pemain Indonesia, tapi hal ini tetap tidak bisa menutupi kenyataan bahwa pemain asli Indonesia masih kalah dengan pemain asing.

Karena penulis adalah pembuat tulisan tentang gerakan memajukan Indonesia, maka tanggapan & penyikapan terhadap masalah di atas akan diuraikan dalam kerangka berpikir gerakan memajukan Indonesia. Konsep berpikir & gerakannya adalah sederhana, mengenali potensi diri (minat-bakat & bidang yang dikuasai) kemudian bergerak maju dengan mengaktualisasikan potensi diri tersebut. Dengan mengenali potensi diri, maka kita dapat bergerak/beraktualisasi dengan potensi tersebut untuk mencapai apa yang ingin kita raih. Sebagai contoh, meskipun saat ini para pemain Indonesia masih kalah dengan pemain asing, tapi karena adanya semangat ingin maju dengan potensi yang dimiliki, maka secara perlahan kemampuan kita akan meningkat jika terus dilatih. Dalam bidang olah raga & bidang-bidang lainnya, latihan adalah hal terpenting dalam meningkatkan kemampuan. Apalagi jika yang kita latih terus menerus adalah minat-bakat & bidang yang kita kuasai, maka akan menghasilkan semangat untuk maju yang lebih besar yang membuat kita menjadi pantang menyerah sebelum kita benar-benar mencapai apa yang ingin kita raih. Contoh nyatanya adalah penulis, yang berusaha & terus menerus melatih kemampuan menulisnya hingga menghasilkan tulisan yang seperti saat ini pembaca baca, yang mana tulisan awalnya adalah sangat sederhana & kurang menarik dibanding tulisan saat ini.

Penulis ambilkan contoh lain yang konkret mengenai besarnya pengaruh minat-bakat & bidang yang dikuasai terhadap peningkatan kemampuan diri jika dilatih terus menerus. Sebelum terjun di dunia tulis menulis, penulis adalah pekerja lapangan yang sering menghabiskan waktu mengendarai sepeda motor di jalanan. Bisa jadi karena ada sedikit minat-bakat & karena berkeliling menggunakan sepeda motor adalah bidang pekerjaan penulis, maka lama kelamaan kemampuan balap penulis menjadi terasah. Sampai pada suatu ketika saking seringnya penulis berkendara dengan kecepatan tinggi, sehingga mengundang pembalap motor lain ingin menjajal kemampuan balap penulis. Tetapi berkat minat-bakat & bidang yang sudah sering diasah, maka balapan tersebut dimenangkan oleh penulis. Balapan yang berikut-berikutnya kebanyakan pada akhirnya dimenangkan oleh penulis, padahal di antara beberapa sepeda motor yang dikalahkan penulis adalah sepeda motor yang memiliki kemampuan mesin yang lebih tinggi dibanding milik penulis. Dari sini dapat disimpulkan bahwa, walaupun kemampuan orang lain lebih tinggi dari kita, jika kita terus melatih minat-bakat & bidang yang kita kuasai, maka lama kelamaan kita dapat menemukan dorongan/semangat untuk maju yang ada di dalam diri kita untuk lebih memaksimalkan potensi diri yang kita punya & bahkan untuk mengalahkan lawan yang memiliki kemampuan di atas kita. 

Oleh karena itu para pemain Indonesia tidak boleh berkecil hati atau bahkan rendah diri ketika berhadapan dengan pemain asing yang memiliki kemampuan jauh di atas kita. Kita hanya perlu menemukan kepercayaan diri kita yang ada di dalam minat-bakat & bidang yang kita kuasai kemudian terus melatihnya hingga semakin membuat kita mahir & dapat mengimbangi permainan pemain asing/bahkan mengalahkannya. Sudah terlalu lama Indonesia jauh dari prestasi yang membanggakan. Jadi saat ini adalah saat membangkitkan mental juara para pemain sepak bola kita untuk terus berusaha meraih hasil yang maksimal dalam kejuaraan/pertandingan yang ada. Hasil kalah/menang bukanlah yang utama, yang terpenting adalah kita terus mempertahankan mental juara kita agar di saat kita kalah, hal itu tidak membuat kita terpuruk tetapi membuat kita belajar dari kekalahan yang kita derita. Ketika kita terus belajar & melatih kemampuan kita, lama kelamaan level kemampuan kita pun meningkat & akan membuat kita semakin sejajar dengan kemampuan pemain asing/bahkan di atas mereka. Apakah hal ini mungkin terjadi? Hal ini tidaklah mustahil, sebagaimana yang telah penulis sendiri alami, awalnya penulis kesulitan membuat tulisan-tulisan seperti ini & kadang membayangkan bahwa kemampuan penulis sangatlah jauh jika dibanding kemampuan penulis-penulis terkenal di Indonesia, tetapi karena penulis telah menemukan minat-bakat & bidang yang dikuasai, maka penulis pun terus melatih & mengembangkannya sehingga penulis dapat mencapai level seperti saat ini. Ayolah Indonesia! Kita bisa! Teruslah melatih minat-bakat & bidang yang dikuasai untuk meraih sesuatu yang bisa membanggakan diri sendiri & bangsa Indonesia.

Saturday, 5 December 2015

Dialog 12 (Perdebatan menjatuhkan penulis GerMeIn)

Saat siang hari pada waktu jam makan siang, orang optimis berada di sebuah warung makan dekat jalan raya lintas propinsi. Orang tersebut baru selesai makan & hendak pergi ke luar. Tetapi ada seorang pria yang membencinya datang mendekat & mengajaknya untuk membicarakan sesuatu.

Orang benci: "Permisi, sebelum kamu pergi dari sini, boleh kita ngobrol-ngobrol dulu?"

Orang optimis: "Apa ada hal penting yang mau dibicarakan?"

Orang benci: "Iya. Hal yang sangat penting, terkait dirimu."

Orang optimis: "Bukankah anda, orang yang benci padaku? Lalu hal penting seperti apa yang perlu kita bicarakan?"

Orang benci: "Ini tentang tulisanmu. Aku sudah lama sekali ingin memperbincangkannya lebih dalam denganmu. Karena selama ini aku belum berkesempatan secara langsung memperdebatkan apa yang kamu tuliskan."

Orang optimis: "Baik. Aku dengan senang hati menanggapi apa yang selama ini menjadi ganjalan di hati anda yang ingin disampaikan padaku."

Orang benci: "Kamu orang yang banyak omong. Ngomongmu ngawur & tanpa dasar, bertele-tele & berputar-putar tanpa arah & tujuan yang jelas. Omonganmu tak bermakna & tidak berbobot. Omonganmu itu nyaring bunyinya tapi tak berisi & tak berarti alias tong kosong nyaring bunyinya."

Orang optimis: "Aku sudah pernah menyinggung & membahas pernyataan seperti yang anda katakan. Jika anda sudah membacanya, seharusnya anda tidak akan berkata-kata seperti ini."

Orang benci: "Untuk apa aku membaca tulisanmu yang isinya cuma omong kosong semua? Percuma! Tidak ada gunanya & hanya buang-buang waktuku saja."

Orang optimis: "Apa maksud anda berbicara seperti itu?"

Orang benci: "Maksudku adalah untuk mengata-ngataimu & menghentikanmu menuliskan & menyebarkan omong kosongmu pada orang lain."

Orang optimis: "Sebelum berbicara terlalu jauh, aku ingin bertanya pada anda. Apa warga negara anda?"

Orang benci: "Sudah tahu, pakai nanya segala! Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu.!"

Orang optimis: "Aku & anda, sama-sama orang Indonesia, jadi untuk apa kita harus bertengkar & anda harus membenciku?"

Orang benci: "Kebencian ini karena aku mencurigai niat di balik semua perbuatan baik yang selama ini kamu lakukan. Aku bahkan sedang memikirkan tipu muslihat dari semua perbuatan baik itu. Karena aku tidak mudah diperdaya oleh modus murahan & rendahan seperti itu karena tidak mungkin seseorang melakukan hal-hal baik tanpa ada motif/imbalan/pamrih/keuntungan apapun yang ingin diperolehnya."

Orang optimis: "Prasangka anda terlalu jauh & berlebihan."

Orang benci: "Tapi hal itu mungkin terjadi di jaman serba materialistis seperti sekarang."

Orang optimis: "Itu karena anda belum mengenalku sehingga anda punya prasangka seperti itu."

Orang benci: "Buat apa aku mengenalmu? Sejak awal aku sudah tidak suka semua hal tentangmu, karena kamu adalah sosok yang mustahil ada & nyata di dunia ini. Jadi, sudahlah, jangan mengelak. Aku merasa bahwa kamu punya niat tidak baik di balik gerakan memajukan indonesia yang kamu suarakan & sebarkan kepada orang-orang."

Orang optimis: "Ide & niat awal aku membuat tulisan tentang gerakan memajukan Indonesia adalah karena aku ingin negara Indonesia menjadi negara yang maju, makmur sentosa, & berdaulat."

Orang benci: "Alah! Aku sangat benci orang yang bermulut besar sepertimu. Kata-katamu ini terlalu dibesar-besarkan & dimanis-maniskan. Jadi jangan membodohiku dengan kata-kata ajaib & bombastis seperti itu, karena aku paling muak dengan kata-kata yang terlalu muluk-muluk & tidak nyata yang hanya melenakan & menjauhkan diri dari kenyataan yang sebenarnya."

Orang optimis: "Kalau begitu aku sederhanakan lagi konsepnya yakni: "aku ingin Indonesiaku maju". Jika disederhanakan lagi "aku ingin maju". Jika aku & orang Indonesia lainnya maju, maka negara Indonesia pun ikut maju. Bukankah ide ini begitu sederhana & jelas?

Orang benci: "Apanya yang jelas? Kamu terlalu naif jika berharap Indonesia maju jika situasi & kondisi Indonesia seperti saat ini. Lagi pula hanya seorang diri sepertimu yang berharap & bermimpi besar seperti itu adalah hal yang sia-sia & tidak ada manfaatnya. Kamu ini jangan membuatku menertawai apa yang kamu lakukan."

Orang optimis: "Meski terlihat sulit, tapi aku harus tetap optimis. Bukankah jika Indonesia maju, maka kita-pun akan merasakan manfaat dari kemajuan tersebut? Bukankah hal ini menguntungkan anda & aku? Jadi apanya yang salah & mengapa anda begitu membenciku?"

Orang benci: "Kamu ini lebih buruk dari orang bodoh atau apa? Seolah-olah kamu tidak tahu & pura-pura tidak mengerti apa kesalahanmu. Jangan berlagak polos & merasa tidak punya salah seperti itu. Pikirkanlah sendiri apa salahmu & mengapa aku membencimu."

Orang optimis: "Tadi anda bilang omonganku bagaikan tong kosong yang nyaring bunyinya, jadi omonganku selangit tapi kosong artinya."

Orang benci: "Itu salah satunya & jika kamu sudah memahaminya maka seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Jadi jangan pura-pura seperti orang bodoh seperti itu. Dasar tidak tahu diri!"

Orang optimis: "Jika seperti itu, berarti omonganku tidak ada gunanya bagi anda, jadi mengapa anda tidak abaikan saja? Bukankah tadi anda juga bilang membaca tulisanku hanya buang-buang waktu saja? Lalu mengapa anda repot-repot menanggapi & membantah tulisan-tulisanku?"

Orang benci: "Kok jadi berbalik memojokkanku? Siapa juga yang mau membaca & memahami tulisanmu? Aku tidak peduli & tidak sudi melihat tulisanmu apalagi sampai membaca & memahaminya. Jadi jangan coba-coba mengubah pikiranku untuk membaca & memahami tulisanmu."

Orang optimis: "Tapi tulisan-tulisanku tidak berisi & mengarahkan kepada hal-hal negatif malah justru tulisan-tulisanku untuk mengajak orang-orang kepada hal-hal positif & menghindari hal-hal negatif."

Orang benci: "Tadi sudah kubilang bahwa aku tidak peduli & tidak sudi melihat tulisanmu. Jadi untuk apa kamu terus membela diri & mencari-cari alasan untuk mempertahankan tulisanmu dari kritikan & kecamanku serta tidak mengakui keburukan, kesalahan, kekurangan, & kelemahanmu yang aku tunjukkan padamu? Kamu memang orang yang munafik, menampakkan diri pada orang lain agar terlihat berhati baik padahal sebenarnya kamu orang yang berhati buruk, kamu berpura-pura terlihat rendah hati padahal di hatimu kamu meninggi-ninggikan dirimu sendiri, kamu berkata-kata seolah kamu orang yang bersih & suci padahal kamu orang yang kotor, kamu berlagak seperti orang yang terhormat & mulia padahal kamu orang yang memalukan & hina, kamu sok menasehati orang padahal dirimu tidak mau dinasehati, kamu sok benar padahal kamu orang yang banyak kesalahan, semua yang kamu lakukan adalah sandiwara & kepalsuan untuk menipu orang-orang yang tidak berpikir panjang & mudah dibodohi, kamu bersembunyi di balik topeng kesempurnaan untuk menutupi cacat & cela yang ada padamu."

Orang optimis: "Sebanyak itukah kejelekanku?"

Orang benci: "Bahkan lebih banyak lagi jika aku mau mengatakannya semua."

Orang optimis: "Dengan begitu banyaknya kejelekanku yang anda ketahui, berarti anda telah sangat mengenalku?"

Orang benci: "Tentu. Aku sangat mengenali semua kejelekan yang ada pada dirimu. Bahkan aku terkadang merasa muak denganmu. Jadi dalam pandanganku, kamu adalah orang yang tidak ada artinya."

Orang optimis: "Tapi tadi anda berkata bahwa anda tidak mau mengenalku & tidak suka semua hal tentangku, tapi mengapa anda malah mencari tahu kejelekanku?" 

Orang benci: "Kok kamu malah memutar balikkan perkataan? Karena aku tidak suka kamu, maka aku mencari-cari semua kejelekanmu. Jadi kamu jangan mengotak atik & membolak-balik logika sederhana ini."

Orang optimis: "Nah..Kata anda: tidak suka semua hal tentangku & tidak mau mengenalku, jika anda mencari-cari kejelekanku berarti anda mau mengenalku & suka hal-hal jelek tentangku."

Orang benci: "Loh..kok malah kamu membolak-balikkan kata-kataku? Pokoknya aku benci kamu & aku benci semua hal tentangmu. Aku sangat benci dengan semua yang kamu katakan & kamu lakukan. Pokoknya semua hal tentangmu adalah salah & omong kosong."

Orang optimis: "Mana yang salah & cuma omong kosong?"

Orang benci: "Pokoknya semuanya tidak benar & tak berarti apapun."

Orang optimis: "Inti sari tulisanku adalah mengenali potensi diri (minat-bakat & bidang yang dikuasai) kemudian bergerak maju menuju aktualisasi diri. Dari inti sari tulisanku, mana yang tidak benar & tidak berarti?"

Orang benci: "Pokoknya omonganmu itu ngawur semua & tidak bermakna. Jadi kamu tidak usah menanyakan balik, mana yang salah & mana yang benar dari tulisanmu. Tulisanmu itu tidak layak untuk disebarluaskan ke semua orang karena berupa anggapan & pengandaian yang tidak berdasar pada kenyataan."

Orang optimis: "Dari inti sari tulisanku, mana yang berupa anggapan & pengandaian yang tidak sesuai kenyataan?"

Orang benci: "Pokoknya tulisanmu itu tidak ada yang bermanfaat bagiku & kalau hanya menulis seperti itu saja, aku pun bisa melakukannya."

Orang optimis: "Syukurlah jika anda bisa membuat tulisan seperti tulisan yang aku buat. Jadi kita bisa bekerja sama untuk menyadarkan & menginspirasi orang lain untuk ikut bergerak memajukan Indonesia."

Orang benci: "Eits..jangan samakan aku dengan dirimu ya! Aku bukanlah pengobral mimpi indah sepertimu. Aku bukanlah orang yang bermodal omong doang sepertimu. Aku bergerak dengan tindakan nyata, tidak sepertimu yang hanya omong doang & angan-angan kosong tanpa tindakan. Aku memimpin sekian banyak orang di sebuah perusahaan. Aku mengarahkan sekian banyak orang untuk bekerja keras mencapai tujuan perusahaan. Aku berpikir & bertindak nyata untuk memajukan perusahaan. Aku telah membantu karyawan meraih impian mereka, aku telah membantu perusahaan meraih impiannya, & akupun telah berusaha keras meraih impianku sendiri. Jadi bukankah itu artinya aku telah turut serta ambil bagian dalam usaha membangun perekononomian Indonesia?"

Orang optimis: "Jalan hidup kita berbeda. Itu adalah jalan hidup anda & inilah jalan hidupku. Jika anda memaksaku untuk menjadi seperti anda, maka bisa jadi hal itu akan menyulitkanku, begitupun sebaliknya. Tapi jika anda tetap memaksaku, maka jawabku: saat ini, memang inilah yang bisa aku lakukan. Tapi apakah membuat tulisan itu semudah membuat coretan tak bermakna di selembar kertas kosong? Jika sesederhana itu saat membuat tulisan, maka buatlah tulisan tentang gerakan memajukan Indonesia. Bertindak & nyatakanlah ide & pemikiran anda tentang hal itu dalam bentuk tulisan."

Orang benci: "Kamu ini cuma bisa membolak-balikkan pendapat orang lain. Apa kamu tidak punya pendapat lain yang murni berasal dari dirimu sendiri? Dasar tukang jiplak, tukang curi ide orang lain, tukang manfaatin orang lain demi kepentinganmu sendiri!"

Orang optimis: "Omongan anda sekarang terlalu melebar. Dari tadi aku bertanya tapi tidak anda jawab & malah membahas hal lainnya."

Orang benci: "Kamu ini memang tidak tahu diri & tidak tahu malu ya?! Dari tadi aku berkata-kata padamu, tapi kamu tetap saja belum tahu juga maksudku. Pokoknya aku benci sekali padamu & aku tidak mau dengar semua kata-katamu."

Orang optimis: "Baiklah jika begitu. Kebencian anda sudah terlalu menutupi pikiran jernih anda, sehingga apapun yang kukatakan tidak dapat masuk & dicerna di dalam pikiran anda, jadi perdebatan kita percuma & tak ada artinya."

Orang benci: "Haha..akhirnya kamu kalah & menyerah. Makanya, jangan sok-sok-an jadi orang. Orang kemarin sore saja, sudah sok hebat, sok segalanya. Emangnya hal hebat apa yang telah kamu lakukan sehingga begitu sombong & menganggap remeh orang lain?"

Orang optimis: "Maaf, anda salah menilaiku. Memang aku punya kesalahan, kekurangan, kelemahan, & keburukan, tapi aku tidak seperti yang anda katakan barusan."

Orang benci: "Yang menilai seseorang adalah orang lain, bukan dirimu sendiri. Jadi kamu tidak bisa menyangkalnya. Lebih baik kamu sadari penilaian yang orang lain berikan padamu & selanjutnya perbaiki kesalahanmu tersebut."

Orang optimis: "Apakah anda mengira aku orang yang bodoh & memiliki banyak keburukan serta tidak bisa menilai bagaimana diri anda?"

Orang benci: "Iya. Karena aku memiliki banyak pengalaman & telah melakukan banyak tindakan nyata yang belum kamu lakukan serta aku telah selangkah lebih maju darimu yakni aku telah mewujudkan mimpiku sebagai pemimpin & kamu baru sebatas sebagai pemimpi. Aku dengan dirimu tidak selevel & tidak sebanding. Dalam banyak hal, keadaanku lebih baik, lebih tinggi, lebih unggul, & lebih terhormat dibanding dirimu. Kamu hanyalah orang rendah yang bermodal dengkul yang bermimpi di siang bolong ingin memeluk gunung & menggapai bulan."

Orang optimis: "Anda berkata bahwa aku banyak omong, tapi ternyata anda yang lebih banyak omongnya. Kata anda aku ngawur & tanpa dasar, tapi ternyata anda belum mengenalku & bicara ngawur tanpa dasar tentangku & tulisanku. Kata anda aku..." sebelum menyelesaikan omongannya, orang yang benci tersebut menyelanya.

Orang benci: "Cukup..cukup.. karena jam menunjukkan pukul 1 siang kurang 5 menit, jadi masih ada waktu 5 menit perjalanan menuju tempat pertemuan dengan temanku. Oleh karena itu aku harus buru-buru pergi sekarang, karena aku ada urusan penting dengan temanku tersebut." selanya sebagai alasan untuk mengakhiri perdebatan karena merasa tersudut & tak berkutik terkena omongan itu & takut terbongkar semua keburukannya jika perdebatan ini terus dilanjutkan kemudian langsung pergi entah ke mana.

Setelah orang benci tersebut pergi, tiba-tiba temannya datang & menghampiri meja makan orang optimis tersebut untuk mengajak ngobrol sebentar.

Orang ndukung: "Hay! Selamat siang!" Sapanya sambil bersalaman dengan orang optimis.

Orang optimis: "Hay! Siang! Wah! Kebetulan banget kita ketemu di sini. Kamu baru datang apa sudah dari tadi di tempat ini?"

Orang ndukung: "Oh! Aku sudah dari tadi di sini."

Orang optimis: "Benarkah?! Kamu tadi duduk di mana? Kok aku tidak melihatmu?"

Orang ndukung: "Aku duduk di belakangmu & aku mendengar semua pembicaraanmu dengan orang yang benci padamu itu."

Orang optimis: "Oh..begitu."

Orang ndukung: "Sebenarnya aku mau ikut nimbrung ngobrol denganmu untuk membelamu & mendebat kata-katanya. Menurutku, kata-katanya itu sangat kasar & keterlaluan padamu. jika aku yang dikata-katai seperti itu, aku bakalan sangat marah & balik mengata-ngatainya. Hanya saja aku aku tidak jadi ikut nimbrung di tengah perdebatan sengitmu dengannya, karena aku ingin lihat bagaimana sikap & perkataanmu terhadap orang yang membencimu itu seperti apa."

Orang optimis: "Aku dulu sudah sering & biasa mengalami hal seperti tadi. Jadi aku juga memahami mengapa ia bersikap & berkata seperti itu. Aku bersikap & berkata seperti tadi berdasarkan pengalamanku sebelumnya."

Orang ndukung: "Aku kagum dengan sikap & kata-katamu. Sejak awal kata-kata orang benci tersebut sudah terpatahkan tapi kamu tetap sabar menanggapi orang tersebut. & ketika orang tersebut menelanjangi kejelekan yang ada pada dirimu, sebenarnya dia sedang menelanjangi kejelekan yang ada pada dirinya sendiri karena kamu bagaikan cermin baginya, yang merefleksikan balik apa yang dikatakannya padamu."

Orang optimis: "Namanya orang, kan, ada bermacam-macam, salah satunya seperti dia. Dia berkata buruk seperti itu karena dia belum mengerti, coba kalau dia mengerti, maka dia akan berkata baik. Semua ada prosesnya, semoga dia, aku, & kamu mendapat pencerahan atas peristiwa ini. Ohya, ini sudah jam 1 siang, aku harus pergi sekarang."

Orang ndukung: "Ok. Aku juga harus balik ke kantor & terima kasih ya atas waktunya! Meskipun pertemuan kita sangat singkat, tapi begitu padat & berisi. Pikiranku sekarang menjadi tercerahkan & aku menjadi lebih bersemangat di banding sebelumnya. Kamu memang pemberi inspirasi bagiku. Semoga di lain waktu kita dapat bertemu lagi & berbincang-bincang tentang sesuatu hal yang rumit untuk aku uraikan & aku pahami sendiri."

Orang optimis: "Ok!"

Setelah menyelesaikan perbincangan singkatnya, ke duanya pun pergi kepada urusannya masing-masing.

Thursday, 3 December 2015

Ketika keperjakaan & keperawanan menjadi hal yang langka

Judul tulisan ini dibuat untuk memperingati 1 Desember sebagai hari AIDS sedunia. Virus HIV sebagai penyebab penyakit AIDS, menjangkiti seseorang hanya ketika terjadi pertukaran/masuknya cairan sperma/vagina, darah, & ASI dari orang yang terjangkit AIDS kepada orang yang sehat. Oleh karena itu cara yang memungkinkan penyebaran AIDS kepada orang lain adalah 1)masuknya cairan sperma/cairan vagina penderita AIDS ke tubuh orang sehat melalui seks bebas, 2)masuknya darah penderita AIDS ke tubuh orang sehat melalui penggunaan obat terlarang & alat medis yang tidak steril, 3)masuknya cairan ASI (Air Susu Ibu) penderita AIDS ke tubuh bayi/orang sehat, 4)faktor keturunan yakni bayi yang dikandung oleh ortu yang terinveksi virus HIV. Dari beberapa cara tersebut yang dibahas di sini adalah penyebaran virus HIV melalui seks bebas. Jika kita berbicara seks bebas, maka itu artinya jika seseorang melakukannya berarti orang tersebut menghilangkan keperjakaan/keperawanannya. Bagi para pria yang melakukannya, tentu akan sulit mendeteksi apakah dia masih perjaka/tidak, tetapi dengan suatu alat tertentu kita masih dapat mengetahuinya. Berbeda dengan perempuan, kita dapat mengetahui orang tersebut masih perawan/tidak saat malam pertama dilakukan (tentunya hanya untuk mereka yang baru menikah) atau dengan memeriksakan dirinya pada pihak medis yang berwenang melakukannya.

Seksualitas, sampai kapanpun & di manapun, akan menjadi hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan & bahkan dilakukan. Kebanyakan orang tidak akan memungkiri bahwa seksualitas adalah suatu dorongan & kebutuhan biologis yang tidak bisa ditahan/dihilangkan ketika sudah muncul secara alami/sesuai waktu biologisnya. Meskipun begitu, seseorang masih dapat mengendalikan dorongan biologis tersebut ketika kondisi mentalnya sudah matang atau bisa juga menekan/menghilangkan dorongan biologis tersebut melalui tindakan medis tertentu (kimia/operasi). Sebagai gambaran, bayangkanlah kita sedang berada di suatu tempat yang sepi & nyaman serta dengan suasana yang membangkitkan gairah, tiba-tiba muncul seseorang yang menarik perhatian kita karena berwajah rupawan & bertubuh menawan, mendekati & menggoda kita. Tujuan orang tersebut adalah membuat kita jatuh ke pelukannya & selanjutnya melakukan hal-hal yang tidak perlu kita katakan di sini, tetapi cuma kita tebak & bayangkan saja apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan pria & perempuan yang sedang bergairah di tempat sepi ketika berdekatan satu sama lain meskipun bukan suami istri. Dari sini dapat kita tebak bahwa kebanyakan orang akan melakukan "hal itu". Tetapi hanya sejumlah kecil orang, sebagai pengecualian, yang yang tidak melakukannya. Orang yang dengan kesadarannya mampu mengendalikan dirinya agar tidak mudah tergoda melakukan hal terlarang tersebut adalah golongan orang yang memiliki kematangan mental sedangkan golongan orang yang dorongan biologisnya telah ditekan/dihilangkan adalah golongan orang yang tidak berhasrat karena pengaruh tindakan medis.

Dorongan biologis seperti itu memang sulit ditahan & dikendalikan ketika situasi & kondisinya mendukung. Hal ini karena ketika melakukan "hal itu", kita akan merasakan kenikmatan yang dapat membuat kita terbang melayang, memunculkan perasaan senang, suka ria & bahagia di hati, serta membuat kita serasa di surga. "Hal itu" kita lakukan untuk menyalurkan & melampiaskan hasrat batin kita sebagai perwujudan saling memberi & menerima kasih sayang antara pria & perempuan yang saling menginginkan. Ketika "hal itu" kita lakukan, rasanya kita ingin mengerahkan seluruh tenaga kita untuk membuat hasrat yang sedang membara mencapai titik puncaknya hingga pada akhirnya padam dengan perasaan puas & bahagia. Di sini kita tidak perlu munafik bahwa disangkal/tidak, dorongan biologis ini adalah bersifat alami & ini-lah yang membuat manusia & makhluk hidup lainnya dapat beranak-pinak serta melanjutkan keturunannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Coba kalau tidak ada dorongan biologis untuk melanjutkan keturunan ini, maka dapat dibayangkan, tidak akan ada makhluk hidup yang tersisa di bumi ini.

Lalu kita akan berpikir bahwa, jika dorongan biologis untuk melanjutkan keturunan adalah bersifat alami maka apanya yang salah? Bukankah tidak ada yang salah jika kita menyalurkan hasrat & gairah kita pada lawan jenis? Bukankah kita melakukan "hal itu" atas dasar "suka sama suka" & "mau sama mau"? Sehingga tidak ada orang yang bisa melarangnya, apalagi jika "hal itu" dilakukan di tempat yang sepi/tersembunyi/tidak ada orang yang tahu. Kalaupun ada akibat buruk dari melakukan "hal itu", bukankah yang menanggungnya adalah diri kita sendiri & bukan orang lain? Serta apa hubungan tulisan ini dengan gerakan memajukan Indonesia? Beberapa pertanyaan di atas seolah-olah benar & jika pertanyaan itu ditujukan kepada kita, maka di antara kita tentu ada yang menjawab bahwa untuk apa juga kita mencampuri urusan orang lain & menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kita jawab dulu pertanyaan mengapa kita ikut campur terhadap hal ini. Untuk hal-hal pribadi yang sifatnya tidak berhubungan dengan orang banyak & bukan merupakan tindakan kriminal, maka kita tidak perlu ikut campur. Tetapi jika berhubungan dengan pelanggaran norma-norma yang berlaku seperti hal-hal tentang kesusilaan, maka kita perlu ikut campur, minimal mendoakan/membencinya, serta mengingatkan & melarangnya jika kita mampu melakukannya. Hal ini karena, bagaimanapun, pelanggaran kesusilaan akan berakibat buruk pada masyarakat, entah itu berupa kemerosotan moral masyarakat atau berupa penyebaran penyakit AIDS & berbagai penyakit lain sebagai akibat dari pergaulan bebas, secara lebih cepat & lebih mudah.

Katakanlah dengan kemajuan ilmu pengetahuan & teknologi, para pelaku pergaulan bebas semakin sadar akan bahaya AIDS & mengetahui cara menghindar & menjaga diri dari terjangkit penyakit AIDS, maka tentunya mereka akan menggunakan alat kontrasepsi, tidak mudah bergonta-ganti pasangan dalam berhubungan intim, menghindari "jajan sembarangan", & tidak menggunakan alat suntik untuk obat-obatan terlarang secara bergantian. Jika seperti itu, maka sebenarnya mereka telah membatasi diri dari bergaul secara bebas & menyadari bahwa pergaulan bebas mengandung resiko & kerugian yang terlalu besar dibanding manfaat & kenikmatan yang diperoleh. Tapi seolah mereka terjebak oleh pemikiran yang sempit/sesat sehingga mereka tetap melakukan pergaulan bebas tersebut meskipun mereka tahu apa akibat buruk dari melakukan "hal itu" secara bebas. Karena hal ini, keperjakaan & keperawanan seolah mudah dibeli dengan bujuk rayu kenikmatan sesaat/harta benda yang tidak seberapa jika dibanding kehormatan & harga diri sebagai seorang perjaka & perawan yang menjaga dirinya dengan baik. Hal ini sebagai dampak dari semakin bebasnya pergaulan karena kemajuan IPTEK tanpa disaring terlebih dahulu sehingga membuat gaya hidup bebas yakni menyerahkan keperjakaan & keperawanan kepada orang lain tanpa pernikahan dapat dengan mudah dilakukan & ditiru orang lain.

Katakanlah sangat sulit untuk menjaga diri agar tetap perjaka & perawan di dunia gemerlap & serba bebas, maka bagi yang belum ternoda, kita bisa menghindari dunia yang dapat menjerumuskan kita pada perbuatan terlarang tersebut. Tapi jika kita tidak bisa melakukannya, maka kita bisa membatasi pergaulan kita agar tidak terlalu bebas & mengarah pada perbuatan itu. Tidak mengapa jika kita dikata-i sok suci, sok benar, sok alim, sok baik, & sok-sok-an yang lain, asalkan kita tetap mempertahankan kehormatan & harga diri kita dengan tetap menjaga keperjakaan & keperawanan kita. Perlakuan, sikap, & kata-kata orang lain yang memojokkan & merendahkan kita tidak ada artinya jika yang kita pertahankan adalah hal yang baik & benar karena semua yang kita lakukan itu justru akan berbalik & mengangkat kehormatan & harga diri kita suatu saat nanti. Katakanlah kita akhirnya dijauhi oleh teman-teman kita, jika ini terjadi maka kita kenali lagi diri kita & berusaha tetap berlaku & bersikap seperti yang biasa kita lakukan sebelumnya, hanya saja untuk hal-hal prinsip tentang keperjakaan & keperawanan adalah harga pasti yang tidak bisa ditawar. Kita bebas bergaul sebebas-bebasnya dengan teman kita asalkan kita tetap memegang prinsip. Kita tetap bergaul bersama mereka dengan tetap memegang prinsip masing-masing, syukur-syukur mereka dapat tertarik & ikut bergabung ke kita yakni dengan keluar dari pergaulan bebas tersebut. Kalau mereka tidak bersedia, maka kita hargai itu & kita tidak perlu memaksa mereka, begitupun sebaliknya. Jika kita tidak bersedia bergabung dengan mereka untuk melakukan pergaulan bebas, maka mereka pun harus menghargai & tidak memaksa kita.

Perbuatan baik memang awalnya sulit & tidak mengenakkan bagi yang baru pertama kali melakukannya, tapi lama-kelamaan akan terasa manis & bahkan semakin meninggikan kehormatan & harga diri kita serta membuat kita menjadi orang yang mulia. Tetapi berbanding terbalik ketika hal itu adalah perbuatan buruk, awalnya mudah & menyenangkan ketika pertama kali melakukannya, tapi lama kelamaan akan terasa pahit & bahkan semakin merendahkan kehormatan & harga diri kita serta membuat kita menjadi orang yang hina. Contohnya pergaulan bebas, pertama kali melakukannya memang sangat menyenangkan, di mana kita dapat bergonta ganti pasangan serta dapat menikmati kelezatan & indahnya bercinta dengan pasangan tanpa ikatan, tapi lama kelamaan ketika kita mencapai puncaknya, dimulailah titik balik menuju titik terendah sebagai siklus kehidupan, yang awalnya terlihat indah & nikmat menjadi terlihat buruk & membawa derita karena terjangkit penyakit AIDS. Berbeda dengan perbuatan baik, awalnya memang sulit & tidak menyenangkan ketika kita diremehkan, direndahkan, dipandang sinis serta dianggap munafik karena menjaga keperjakaan & keperawanan kita di tengah orang yang bergaul secara bebas, tapi lama kelamaan jika kita tetap bertahan & berpegang pada prinsip kita, maka semua hal itu akan berbalik & apa yang kita lakukan tersebut justru akan menyelamatkan diri kita dari akibat buruk pergaulan bebas.

Penyaluran & pelampiasan hasrat biologis kepada lawan jenis sebagai bentuk dari dorongan biologis untuk melanjutkan keturunan bukanlah kesalahan/hal yang menjadi permasalahan, tetapi merupakan hal wajar & alamiah selama dilakukan dengan cara & jalan yang baik & benar. Secara alamiah setiap orang memiliki dorongan & kebutuhan biologis yang harus dipenuhi agar dapat melangsungkan hidupnya & melanjutkan keturunannya. Tetapi para pelaku pergaulan bebas berpikir sempit/bahkan berpikir sesat & berangapan bahwa pergaulan bebas adalah cara paling menyenangkan & memberi kenikmatan yang lebih. Tetapi dalam pergaulan bebas tidak ada jaminan pasangan intim kita harus bertanggung jawab terhadap segala resiko pergaulan bebas. Yang ada hanyalah mengumbar kesenangan & kenikmatan sesaat. Para pelaku pergaulan bebas menutup mata/mengabaikan segala resiko & akibat buruk pergaulan bebas. Sehingga pergaulan bebas bukanlah penyaluran & pelampiasan hasrat yang tepat untuk memenuhi dorongan & kebutuhan biologis tersebut, mengingat terlalu besarnya resiko yang tidak sebanding dengan manfaat & kenikmatan yang diperoleh. Hanya melalui ikatan pernikahanlah dorongan & kebutuhan biologis tersebut dapat dipenuhi dengan cara & jalan yang baik & benar untuk meminimalkan/menghilangkan akibat buruk seperti yang ada di dalam pergaulan bebas. Melalui ikatan pernikahanlah seseorang mendapat jaminan hukum & keabsahan dalam menjalani kehidupan berumah tangga dengan lawan jenis.

Jika seperti itu, maka akan muncul pertanyaan, bagaimana bersenang-senang dengan banyak perempuan tapi tanpa terjerumus dalam pergaulan bebas? Sebenarnya ada cara & jalan yang dibolehkan untuk hal itu yakni melakukan poligami. Penulis termasuk orang yang menyuarakan poligami sebagai jalan untuk memenuhi hasrat pria yang ingin memiliki perempuan lebih dari satu. Jika para pembaca ada yang tertarik untuk berpoligami, maka bergabunglah dengan penulis untuk menyuarakan poligami yang bisa pembaca lihat di http://duniataufiq.blogspot.com. Penulis akan membela para pelaku poligami, asalkan mereka dalam posisi yang benar & bertanggung jawab. Karena penulis berpikir lebih baik berpoligami daripada berselingkuh/melakukan pergaulan bebas yang beresiko tinggi. Calon pelaku poligami tidak perlu segan jika banyak yang tidak setuju dengan pernikahan poligami, karena poligami adalah pilihan & poligami dilakukan tanpa paksaan yakni tanpa memaksakan kehendak orang lain agar bersedia melakukan poligami. Jika seseorang tidak mau dipoligami, maka kita cari lagi orang lain yang bersedia dipoligami. Tapi bagaimana jika kita terlalu mencintai seseorang sedangkan orang tersebut tidak mau dipoligami? Jika kita terlalu condong pada perempuan tersebut, maka kita harus rela melepaskan perempuan-perempuan yang lain agar bisa menikah dengan perempuan yang kita cintai tersebut secara monogami. Tapi jika kita tidak condong pada perempuan tersebut, maka kita harus rela melepaskannya walaupun kita masih mencintainya agar bisa menikah dengan beberapa perempuan lain yang bersedia dipoligami.

Kita kembali lagi pada persoalan pergaulan bebas. Jikalau ada yang beralasan bahwa "hal itu" dilakukan atas dasar suka sama suka & mau sama mau, maka orang lain tidak punya hak untuk melarang. Kita sebagai orang lain bagi para pelaku pergaulan bebas memang tidak punya hak mencampuri urusan pribadi mereka, tetapi kita punya kewajiban untuk menjaga pelanggaran kesusilaan yang dilakukan secara terang-terangan, karena hal itu tidak saja mengganggu & merusak ketertiban tetapi juga bisa menjadi pemicu timbulnya penyakit jasmani/rohani/sosial yang dapat menular kepada orang lain seperti penyakit kelamin, AIDS, aborsi, penelantaran anak, kemerosotan moral, dsb. Meskipun yang menanggung akibat buruk pergaulan bebas adalah para pelakunya sendiri tetapi orang lain di sekitar para pelaku tersebut juga akan terkena dampak perbuatan buruk tersebut, yakni terancam tertular penyakit jasmani/rohani/sosial seperti yang telah disebut di atas sehingga kita sebagai orang lain bagi para pelaku pergaulan bebas tersebut perlu waspada & kalau perlu mengantisipasi akibat buruk pergaulan bebas.

Lalu apa hubungan tulisan ini dengan gerakan memajukan Indonesia? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita bahas dahulu pertanyaan yang muncul dari orang-orang yang terlanjur tercebur dalam pergaulan bebas yakni apa yang harus dilakukan mereka agar terbebas dari pergaulan bebas/minimal terbebas dari ancaman penyakit jasmani/rohani/sosial? Yang pelu dilakukan adalah terus mengingat akibat terburuk dari pergaulan bebas kemudian secara bertahap mengurangi atau bahkan menghentikan perbuatan terlarang yang pernah dilakukan & yang terpenting adalah membatasi pergaulan agar tidak terlalu bebas & bergaul dengan orang-orang yang membawa pengaruh positif. Kita beralih pada jawaban untuk pertanyaan di awal paragraf ini yakni hubungan tulisan ini dengan gerakan memajukan Indonesia, tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran & penyadaran bahwa masalah sosial seperti kerusakan moral akibat pergaulan bebas dapat menghambat kemajuan masyarakat yang ujung-ujungnya akan menghambat kemajuan Indonesia pada umumnya. Jadi harapannya setelah membaca ini, kita dapat menjadi lebih sadar akan dampak buruk dari pergaulan bebas yang dapat menimbulkan penyakit jasmani/rohani/sosial seperti yang telah disebutkan di atas yang hanya menimbulkan masalah sosial yang akan membuat kita tertahan & sibuk mengatasi masalah ini, padahal seharusnya kita bergerak maju untuk membangun Indonesia agar bisa segera menjadi negara yang makmur sentosa & berdaulat.

Sunday, 22 November 2015

Menyoroti peristiwa yang sedang menghangat antara Eksekutif-Legislatif & Freeport

Di sini penulis tidak membahas informasi yang beredar di masyarakat tentang pertemuan & dialog antara petinggi Freeport dengan pemimpin Legislatif yang mencatut nama pemimpin Eksekutif serta surat menyurat pejabat eksekutif dengan Freeport. Tetapi penulis lebih memfokuskan pembahasan pada sorotan publik terhadap peristiwa tersebut & ekplorasi sumber daya alam oleh pengusaha asing/lokal. Peristiwa tersebut menjadi sorotan publik, karena saat ini rakyat sudah tidak sama dengan sebelumnya. Rakyat pada saat ini sudah mulai sadar & menyadari berbagai peristiwa yang terjadi terkait dengan negaranya, sehingga persoalan yang bersangkutan dengan kepentingan rakyat banyak akan disorot, dikritisi & dikawal perkembangannya agar dapat berjalan sebagaimana mestinya demi mewujudkan Indonesia yang maju, makmur, sentosa, & berdaulat. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi para pejabat seluruhnya untuk bangun & sadar sepenuhnya terutama pejabat yang membangun mimpi-mimpi indah dengan menghalalkan segala cara. Tidak ada yang melarang seseorang untuk bermimpi setinggi langit & seindah mungkin apalagi melarang seseorang yang ingin mewujudkan mimpinya, asalkan cara/jalan yang ditempuh untuk mewujudkan mimpi tersebut bukan-lah dengan hal-hal yang terlarang. Oleh karena itu, untuk semua pejabat, silahkan berangan-angan apapun & berusaha membangun mimpinya/kerajaan bisnisnya/kekuasaan besarnya, asalkan cara/jalan yang digunakan adalah dengan hal-hal yang dibolehkan/tidak menghalalkan segala cara/bukan hal-hal yang terlarang.

Para pejabat diberi mandat oleh rakyat, yang bertindak sebagai pihak yang mengelola & mengatur negara ini, diharapkan untuk menjalankan tugasnya tanpa melakukan penyelewengan/penyalahgunaan jabatan sehingga berbagai permasalahan penghambat kemajuan yang muncul sebagai akibat dari penyalahgunaan jabatan, dapat dihindari. Dalam banyak hal, bukankah kita semua ingin maju? Yang kaya ingin tambah kaya, yang berkuasa ingin tambah berkuasa, yang sukses ingin tambah sukses, dsb. Normalnya, tidak ada satu pun orang yang ingin tetap diam/tidak bergerak/tidak mengalami kemajuan sama sekali, dengan kata lain tidak ada satu pun orang yang menginginkan kemunduran. Hanya saja karena ketidaktahuan kita tentang bagaimana cara untuk mencapai kemajuan tersebut sehingga ada yang berpikir/menyangka bahwa dengan menyelewengkan/menyalahgunakan jabatan untuk membangun mimpinya, dapat memajukan/meningkatkan/meninggikan pencapaian yang telah diraihnya. Katakanlah penyalahgunaan tersebut dapat meninggikan pencapaiannya dalam hal harta kekayaan & kekuasaannya, tetapi apakah mereka pernah berpikir bahwa pondasi pencapaian tersebut sangat rapuh? Sehingga suatu waktu, ketika pondasi pencapaian tersebut terbongkar karena ketahuan berasal dari penyelewengan/penyalahgunaan jabatan, maka segala pencapaiannya yang sudah dibangun sedemikian tinggi itu akan roboh dengan seketika, atau bahkan habis tidak bersisa. Apalagi di jaman kemudahan akses & keterbukaan informasi seperti sekarang, informasi apapun dapat dengan cepat tersebar & diketahui banyak orang sehingga informasi penting & sensitif akan langsung mendapat sorotan publik. Jadi, apakah oknum-oknum pejabat masih memiliki niat untuk menyalahgunakan jabatannya?

Rakyat menyorot berbagai peristiwa penting tersebut hanya untuk mengawal pengaturan & pengelolaan kekayaan negara agar digunakan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat. Hal ini karena, rakyat dari negara manapun tidak akan rela ketika kekayaan negaranya hanya dinikmati oleh segelintir orang apalagi dinikmati oleh pihak asing. Coba kita renungkan, apakah kita pernah dengan sukarela membiarkan harta kekayaan kita dinikmati/diambil orang lain yang tidak berhak? Tentu jawabnya adalah tidak. Begitupun negara kita, negara ini adalah milik kita, maka kita pun tidak akan dengan sukarela membiarkan kekayaan negara kita dinikmati/diambil orang yang tidak berhak, baik dari bangsa sendiri maupun dari bangsa lain. Kita ambil contoh, pertambangan migas & non migas jika diatur & dikelola dengan baik, seharusnya dapat memberikan keuntungan pada negara yang pada akhirnya dikembalikan lagi untuk kemakmuran rakyat, terutama di tempat di mana penambangan tersebut dilakukan. Jika keuntungan tersebut hanya dinikmati segelintir orang & pihak asing tanpa memberikan sumbangan apapun pada peningkatan perekonomian & pembangunan di daerah penambangan tersebut, maka dapatkah hal tersebut dibenarkan? Katakanlah hal tersebut telah berjalan bertahun-tahun & tidak ada hukum yang dilanggar, tapi jika direnungkan, penambangan besar yang dilakukan bertahun-tahun tersebut apakah memberikan keuntungan pada negara & khususnya pada rakyat? Jika tidak terlalu menguntungkan negara, khususnya rakyat di daerah penambangan, padahal penambangan tersebut dilakukan dalam skala besar & dalam waktu bertahun-tahun, maka apanya yang salah? Apakah selama ini kita tidak sadar dengan hal ini?

Kita kerucutkan pembahasan pada pengaturan & pengelolaan pertambangan migas & non migas. Pertambangan migas & non migas tentunya sudah diatur sedemikian rupa agar pengelolaannya dapat saling menguntungkan ke dua belah pihak, baik dari pihak negara/pemerintah daerah & pengelola dari pengusaha lokal/luar negeri. Keuntungan dari pihak negara/pemerintah daerah dapat dilihat dari adanya perkembangan & kemajuan perekonomian & pembangunan di daerah tempat penambangan dilakukan. Sedangkan dari pihak pengusaha dapat dilihat dari perkembangan & kemajuan usahanya yakni adanya peningkatan produksi & pembukaan anak perusahaan/bidang usaha baru. Jika tidak menguntungkan, tentunya negara/pemerintah daerah tidak akan melanjutkan kerjasama pengelolaan pertambangan tersebut dengan para pengusaha itu & mencari pihak lain yang dapat diajak kerjasama yang saling menguntungkan satu sama lain.  Begitupun dari pihak pengusaha, mereka juga tidak akan melanjutkan pengelolaan pertambangan tersebut jika tidak menguntungkan & akan mencari tempat investasi lain yang menguntungkan bagi mereka. Oleh karena itu, bagi para investor yang sedang/akan berinvestasi di Indonesia, kita sangat senang bekerjasama dengan anda sekalian, tetapi saat ini negara Indonesia banyak disorot oleh rakyatnya, sehingga segala bentuk kerjasama yang tidak saling menguntungkan & hanya memberi keuntungan salah satu pihak sedangkan yang lain rugi, maka dengan segala hormat kepada para investor, pihak kita & pihak anda tentu tidak ada yang mau dirugikan, oleh sebab itu demi keberlanjutan kerjasama yang saling menguntungkan, kerjasama yang akan/sedang dilakukan seyogyanya dibuat berdasarkan prinsip yang saling menguntungkan.

Semua ini dilakukan karena negara kami ingin lebih maju dibanding sebelumnya, begitupun para investor sekalian. Dalam perkembangan & kemajuan peradaban seperti sekarang, sudah tidak jamannya lagi main akal-akal-an untuk melakukan kerjasama tetapi tidak saling menguntungkan satu sama lain, karena orang yang melek & sadar tidak akan mau dibodohi dengan cara seperti itu, begitupun dengan negara kami. Jika kerjasama yang dilakukan tidak memberikan keuntungan tetapi malah merugikan, maka siapapun tidak akan ada yang bersedia melakukannya, begitupun dengan para investor sekalian. Tulisan ini, hanya ingin mengetuk hati para investor & terutama para pejabat publik (yang terkait dengan kerjasama pengelolaan kekayaan negara) agar menjalin hubungan kerjasama yang saling menguntungkan. Memang jalinan kerjasama yang dibangun tanpa menjunjung tinggi prinsip saling menguntungkan, maka salah satu pihak dapat dengan cepat melipatgandakan keuntungannya, tetapi kerjasama seperti itu tidak akan bertahan lama, bahkan kalau bisa bertahan sampai puluhan/ratusan tahun sekalipun, suatu saat nanti ketika sampai pada generasi yang melek & sadar, kerjasama tersebut bakal dihentikan. Oleh karena itu, sebelum hal itu terjadi, agar negara kami & para investor sekalian dapat menjalin kerjasama dengan baik dalam jangka waktu yang lebih lama, maka mari kita renungkan & tata ulang semua bentuk kerjasama yang telah/akan dilakukan agar dapat saling memberikan keuntungan satu sama lain tanpa ada salah satu pihak yang dirugikan.

Monday, 16 November 2015

Mempertanyakan terorisme yang menggunakan dalih Suku, Agama, & Ras

Peristiwa teror di Paris-Prancis pada waktu lalu di beberapa tempat umum yang menimbulkan korban jiwa, mengundang keprihatinan & kecaman terhadap para pelaku terornya. Bagaimana tidak, kota Paris-Prancis yang dikenal sebagai kota cinta, tempat romantis bagi para pasangan yang sedang dimabuk asmara, harus ternoda dengan serangan teror dari para pelaku yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, 1 hari sebelum aksi terorisme di Prancis, yang juga sempat disinggung oleh Angelina Jolie, terjadi juga aksi terorisme serupa di Lebanon tetapi luput dari perhatian pers dunia. Seharusnya di jaman yang serba modern, yang menjunjung tinggi kemanusiaan serta ilmu pengetahuan & teknologi, kejadian ini tidak sampai terjadi. Di balik peristiwa ini, ada maksud-maksud tertentu dari para pelakunya terkait dengan situasi & kondisi yang sedang berkembang di Prancis & lebanon. Tapi di sini kita lebih memfokuskan pembahasan pada aksi terorisme oleh para pelakunya. Dari peristiwa ini kita akan bertanya-tanya mengapa para pelakunya melakukan aksi teror seperti itu? Apakah para pelakunya sudah memikirkan akibat dari aksi terornya? Bukankah para pelakunya berjumlah beberapa orang saja & tidakkah mereka sadar ketika mereka melakukan aksi teror di tempat umum, sebenarnya mereka sedang terjebak & terkepung di tengah banyak orang & sekumpulan petugas keamanan yang dapat menangkap/mengakhiri hidup mereka?

Bisa jadi pertanyaan-pertanyaan itu tidak sampai terbersit di benak mereka karena terjebak dalam pemikiran yang sempit atau mereka tahu hal itu tapi tersesat dalam pemikiran yang salah. Untuk itu, mari kita pertanyakan tindakan terorisme tersebut & mengurai pikiran para pelakunya agar jelas duduk perkaranya & menyadarkan calon-calon pelaku teror baru agar tidak ikut terjerumus & tergabung dalam tindakan terorisme manapun. Sebelum membahasnya, penulis mau menambahkan di awal tulisan ini tentang alasan mengapa penulis mengangkat topik terorisme ini. Terorisme ini menjadi penting dibahas karena dapat mengganggu & menghambat usaha membangun & memajukan negara. Terorisme dapat merusak & menghancurkan apa yang selama ini telah dibangun dengan susah payah oleh suatu negara. Contohnya sudah banyak, seperti yang terjadi di beberapa negara, mulai dari ancaman hingga kerusakan besar yang ditimbulkan teroris bahkan jika tidak segera ditindak dapat menyebabkan kehancuran suatu negara. Oleh karena betapa buruknya akibat terorisme yang dapat menghambat & merusak pembangunan & kemajuan suatu negara, maka Gerakan Memajukan Indonesia pun sangat menentang segala bentuk aksi terorisme.

Tindakan terorisme pada awalnya muncul sebagai bentuk ketidakpuasan & protes terhadap kenyataan yang terjadi oleh orang-orang yang memiliki pikiran sempit&/sesat. Sehingga untuk mengubah & mewujudkan keadaan/kenyataan seperti yang diinginkannya, mereka menggunakan segala cara, bahkan kalau perlu memanfaatkan Suku, Agama, & Ras untuk memperkuat & mempercepat usahanya mencapai tujuan tersebut. Mengapa mereka memanfaatkan Suku, Agama, & Ras untuk tujuan tersebut? Karena Suku, Agama, & Ras adalah hal penting yang akan dibela habis-habisan oleh para penganutnya jika ada yang mengganggu/merusaknya. Suku, Agama, & Ras dapat pula diartikan sebagai hal penting yang akan membuat para pengikutnya mempersembahkan apa saja yang dimilikinya untuk meraih tujuan dari Suku, Agama, & Ras yang dianutnya. Ada banyak contoh di masa lalu & di masa sekarang yang menggunakan dalih SARA dalam rangka memuluskan usahanya untuk meraih suatu tujuan tertentu. Tapi apakah ada yang salah dengan SARA? Bukankah tiap orang ketika terlahir di dunia ini langsung melekat pada dirinya Suku & Ras tertentu, serta biasanya secara otomatis menganut Agama tertentu pula? Bukankah Suku, Agama, & Ras adalah hal yang tidak dapat terlepas dari kehidupan sehari-hari kita?

Suku, Agama, & Ras adalah kenyataan hidup & keberbedaan yang terjadi di antara setiap manusia yang ada di dunia ini. Tidak ada yang salah dengan SARA, karena di manapun, Suku, Agama, & Ras menghargai perdamaian & kemanusian. Setiap orang ingin hidup damai & diperlakukan manusiawi oleh orang lain. & semuanya itu terangkum dalam norma-norma kehidupan yang berlaku di setiap tempat di dunia ini. Hanya saja karena kesalahan & kesesatan dalam memaknai suatu ajaran tertentu, maka sekelompok orang memaknai kenyataan & keberbedaan (SARA) di antara mereka dengan cara lain yang bahkan bertentangan & melanggar norma-norma kehidupan. Mereka bahkan akhirnya mengabaikan perdamaian & kemanusian yang sangat dihargai oleh ajaran murni dari Suku, Agama, & Ras mereka. Pandangan mereka dipersempit & disesatkan oleh pengertian baru mengenai ajaran Suku, Agama, & Ras versi mereka yang membolehkan melakukan segala cara demi meraih tujuan walaupun itu melalui cara-cara terorisme. Mereka tidak sadar bahwa tindakan terorisme adalah tindakan salah langkah di mana mereka mengira tindakan tersebut dapat berjalan mulus ketika dilakukan di tengah-tengah peradaban dunia yang matang & sangat menentang terorisme. Oleh karena itu, tidakkah mereka khawatir jika negara-negara yang cinta perdamaian & menjunjung tinggi kemanusiaan, kompak & bersatu melawan terorisme? Negara-negara tersebut serentak menyerang & mencerabut terorisme sampai akar-akarnya pada pusat pergerakannya? Apabila ini terjadi, masih adakah tempat bagi teroris melakukan aksi terorismenya?

Kita semua sepakat bahwa, siapapun & negara manapun pasti menginginkan perdamaian. Apalagi peradaban manusia yang semakin tinggi, semakin menyadarkan setiap orang bahwa perdamaian adalah hal yang paling indah & penting karena memberikan ketenangan batin dalam menjalani berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari. Jika dibandingkan, bukankah peperangan hanya mengganggu & merusak kehidupan sehari-hari serta membuat batin tidak tenang? Jadi seperti yang telah disebut sebelumnya, jika setiap negara sepakat & bersatu melawan terorisme, maka tidak ada sedikitpun tempat bagi teroris untuk beraksi & menyebarluaskan aksi terorisme-nya. Tapi mengapa kenyataan yang terjadi adalah masih ada terorisme di dunia ini? Apakah para teroris begitu sangat cerdas serta ilmu pengetahuan & teknologi yang mereka gunakan begitu sangat canggih sehingga semua negara di dunia terutama negara maju, harus kalah satu langkah dengan para teroris tersebut? Apakah para teroris memiliki persenjataan, pendanaan & barisan tentara yang sangat banyak & kuat sehingga mereka sulit dikalahkan? Apakah para teroris dilindungi & berlindung di balik suatu kekuatan besar yang membuat negara-negara lain segan/tidak sepenuhnya melawan & menghentikan tindakan terorisme mereka? Serta berbagai alasan lain yang memungkinkan menjadi alasan mengapa tindakan terorisme tetap ada di dunia ini.

Segala tindakan terorisme, apapun alasannya, adalah salah. Oleh karena itu terorisme yang mengatas-namakan Suku, Agama, & Ras tertentu tidak memiliki dasar apapun yang dapat dibenarkan. Tindakan mereka sebenarnya didasarkan pada kepentingan pribadi/kelompoknya tetapi kepentingan tersebut bersembunyi/berlindung di balik Suku, Agama, & Ras tertentu. Mereka melakukannya karena merasa tidak cukup kuat untuk berdiri sendiri & tidak cukup berani untuk mengklaim bahwa tindakan mereka sebenarnya adalah untuk kepentingan pribadi/kelompoknya sehingga mereka memanfaatkan Suku, Agama, & Ras tersebut untuk mengelabui para pengikutnya dalam meraih tujuannya. Jika para pengikutnya berpikir & merenungkan bahwa segala pengorbanan & sumber daya yang dipersembahkan untuk aksi terorisme tersebut ternyata hanya tujuan kecil (karena dilakukan oleh segelintir orang di dunia ini & hanya untuk merusak perdamaian), maka ketika dihadapkan pada tujuan besar (karena dilakukan oleh sebagian besar orang yakni untuk menjaga perdamaian), mereka akan menyadari bahwa mereka hanya diperalat serta dikelabui & ditipu untuk mengejar tujuan yang kecil & hanya merugikan mereka. Mereka akan menyadari betapa sempit & sesatnya pemikiran mereka hingga membuat mereka salah menganggap merusak perdamaian sebagai hal yang benar, padahal seharusnya mereka sadar bahwa tujuan besarnya & sebenarnya adalah menjaga perdamaian & menentang segala bentuk terorisme.

Jika kita mulai menyadari bahwa tujuan utama & tujuan besar dari setiap Suku, Agama, & Ras manapun di dunia adalah menjaga perdamaian, maka memaknai ulang ajaran tertentu sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa boleh menggunakan cara terorisme untuk mencapai tujuan tertentu adalah bertentangan dengan ajaran murni & asli serta nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh Suku, Agama, & Ras manapun. Oleh karena itu jika ada ajakan untuk bergabung dalam gerakan terorisme dengan dalih & argumen yang seolah-olah adalah tuntunan/ajaran yang berasal dari Suku, Agama, & Ras tertentu, maka hal itu perlu kita pertanyakan kebenarannya, karena bisa jadi dalih & argumen tersebut hanyalah akal-akal-an & pembolak-balikkan makna serta pembelokan maksud dari ajaran yang sebenarnya. Karena tuntunan/ajaran asli Suku, agama, & Ras manapun sangat menghargai kemanusiaan & perdamaian, maka terorisme dengan dalih apapun tidaklah merujuk pada ajaran murni Suku, Agama, & Ras manapun tetapi terorisme sebenarnya merujuk pada ajaran yang telah dicemari pemikiran sempit & sesat oleh oknum dari Suku, Agama, & Ras tertentu. Dengan demikian segala tindakan terorisme merupakan tindakan yang dilakukan oleh oknum yang telah menyimpang dari ajaran murni/asli Suku, Agama, & Ras-nya.

Untuk mengenali apakah suatu tuntunan/ajaran tertentu masih murni/asli atau sudah dicemari pemikiran sempit & sesat, kita tanyakan pada diri sendiri & orang lain (tanpa melihat kelakuan penganutnya yang beraneka ragam): apakah tuntunan/ajaran tersebut mengandung banyak pertentangan/tidak? Apakah menjunjung tinggi kemanusiaan & perdamaian/tidak? Apakah membolehkan menggunakan segala cara (termasuk terorisme) untuk mencapai tujuan/tidak? Jika kita masih menemukan beberapa/banyak tuntunan/ajaran janggal/bertentangan dengan hati nurani kita, maka tuntunan/ajaran tersebut tidak-lah murni. & kita patut mempertanyakan & menelusuri tuntunan/ajaran tersebut hingga ke ujung pangkalnya untuk mengetahui bagaimana tuntunan/ajaran yang murni dari Suku, Agama, & Ras tersebut.

Suku, Agama, & Ras manapun memiliki tuntunan/ajaran terbaik sebagai refleksi terhadap kondisi ideal yang diharapkan terjadi pada kehidupan di dunia ini sebagai bentuk dari keluhuran budi pekerti manusia. Oleh karena itu tuntunan/ajaran Suku, Agama, & Ras manapun adalah yang terbaik & yang menjadi pedoman bagi para penganutnya dalam menjalani kehidupan di dunia. Jadi tuntunan/ajaran sesat yang membolehkan menggunakan terorisme dalam mencapai tujuan, bukanlah berasal dari Suku, Agama, & Ras manapun sehingga kita jangan mudah terkecoh dengan alasan, dalih, argumen, iming-iming & imbalan semanis apapun jika ujung-ujungnya adalah untuk membenarkan & bergabung dengan aksi terorisme. Saat ini umat manusia berada pada peradaban dunia yang terbaik & akan terus bergerak maju menuju peradaban yang lebih baik lagi, oleh karena itu saatnya kita semua bangun & sadar untuk mengenali potensi diri (minat-bakat & bidang yang dikuasai) & kemudian mendayagunakan potensi tersebut untuk memajukan negara masing-masing.

Tuesday, 10 November 2015

Memaknai peringatan hari pahlawan 10 November dengan GerMeIn (Gerakan Memajukan Indonesia)

Kita mulai tulisan ini dengan pertanyaan mengapa kita harus memperingati hari pahlawan 10 November? Di antara sekian banyak jawaban, ada jawaban yang mengatakan bahwa peringatan hari pahlawan adalah untuk memperingati perjuangan para pahlawan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan melalui pertempuran oleh pasukan Indonesia (pertama kalinya setelah proklamasi) terhadap pasukan asing yang mengancam kedaulatan negara. Pertempuran ini merupakan pertempuran terbesar & terberat serta memakan banyak korban, tetapi berakhir dengan jatuhnya kota Surabaya ke tangan Inggris karena kalah persenjataan. Meskipun demikian, peristiwa tersebut bukannya mengendurkan semangat bangsa Indonesia tetapi justru mengobarkan semangat perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan di segenap wilayah Indonesia.

Jika kita menelusuri sejarah peristiwa tersebut, maka kita akan mendapati bahwa pertempuran tersebut diawali oleh peristiwa pengibaran bendera Belanda di wilayah Indonesia, padahal pada saat itu Indonesia sudah merdeka. Peristiwa itulah yang membuat bangsa Indonesia tidak terima sehingga terjadi perobekan bendera merah-putih-biru (negara Belanda) menjadi bendera merah-putih (negara Indonesia) untuk menegakkan harga diri bangsa sebagai negara yang merdeka & berdaulat. Yang patut kita ingat & kita renungkan dari peristiwa yang kita peringati sebagai hari pahlawan tersebut adalah semangat untuk menegakkan & mempertahankan harga diri bangsa sebagai negara yang merdeka & berdaulat. Bangsa kita pada saat itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya sebagai bangsa yang merdeka & berdaulat sehingga segala hal yang merusak kemerdekaan & kedaulatan negaranya akan diperjuangkan habis-habisan karena bangsa kita pada saat itu sadar bahwa harga yang dikorbankan untuk mendapatkan kemerdekaan & kedaulatan sangatlah mahal.

Kita bisa buka lagi sejarah perjuangan negara kita di masa lalu yang menunjukkan bahwa betapa banyaknya tokoh besar, pejuang besar, pemikir besar, pahlawan besar bahkan rakyat kecil dalam jumlah besar serta begitu banyak harta, tenaga & waktu yang dikorbankan hanya demi mendapatkan & mendeklarasikan diri sebagai negara yang merdeka & berdaulat. Bangsa kita melakukan perjuangan & perjalanan panjang selama beberapa ratus tahun untuk mendapatkan buah manis yakni menjadi bangsa yang merdeka & berdaulat. Oleh karena itu ketika buah manis perjuangan bangsanya selama ini mau dirusak & negaranya mau dikuasai pihak asing, maka bangsa kita pada saat itu langsung berontak & berusaha mempertahankan kemerdekaannya serta berjuang meskipun dengan segenap keterbatasan sumber daya yang dimilkinya. Oleh karena itu, walaupun perjuangan mereka tidak dilengkapi dengan persenjataan perang yang memadai & sebanding dengan yang dimiliki pihak asing, tapi para pejuang kita tidak gentar & pantang mundur. Mereka tetap berjuang mempertahankan kemerdekaan karena mereka meyakini bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Di jaman modern & maju seperti saat ini yang menjunjung tinggi HAM & perdamaian dunia, kita akan berpikir bahwa cara untuk mengenang peristiwa bersejarah negara kita di masa lalu adalah dengan melakukan peringatan & perayaan terhadap hari-hari bersejarah tersebut. Peringatan & perayaan terhadap peristiwa bersejarah tersebut adalah langkah pertama, kemudian langkah berikutnya adalah melanjutkan perjuangan mereka. Hal itu kita lakukan sebagai perwujudan cinta kepada tanah air & penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan. Pada jaman modern seperti sekarang, penjajahan & perbudakan sangat ditentang di belahan bumi manapun karena setiap negara adalah sejajar sebagai negara yang merdeka & berdaulat sehingga tiada tempat bagi penjajahan & perbudakan oleh/terhadap suatu negara/suatu bangsa manapun. Oleh karena itu, saat ini perjuangan kita tidak lagi kepada penjajahan & perbudakan dalam arti yang kasar & kasat mata, tetapi lebih kepada perjuangan dalam membangun & memajukan bangsa & negara serta menegakkan kedaulatan negara.

Lalu apa langkah nyata yang bisa dilakukan untuk ikut serta dalam perjuangan tersebut? Langkah nyata yang bisa dilakukan dalam perjuangan ini adalah dengan melakukan gerakan bersama untuk memajukan Indonesia. Bagaimana gerakan ini bisa menjadi nyata? Pertama-tama adalah dengan melakukan sesuatu hal, walaupun itu adalah hal yang kecil sekalipun, sesuai dengan minat-bakat & bidang kita. Contohnya: penulis memiliki minat-bakat dalam hal tulisan & bidang yang disukai penulis adalah pemikiran. Langkah nyata yang pertama kali penulis lakukan adalah menulis sesuatu yang ingin penulis sampaikan kepada para pembaca, walaupun awalnya adalah tentang sesuatu yang sederhana & bisa jadi tidak menarik untuk dibaca orang lain. Tapi penulis terus melakukan hal tersebut sampai sekarang hingga menghasilkan tulisan seperti yang saat ini anda sedang baca. Sekarang, angan-angan yang dulu pernah penulis bayangkan yakni ikut berperan serta dalam gerakan memajukan Indonesia menjadi nyata melalui tulisan-tulisan yang penulis buat. Walaupun bagi sebagian orang, peran serta penulis dalam gerakan memajukan Indonesia melalui tulisan, tidak punya andil yang besar pada kemajuan Indonesia, tapi paling tidak dengan segala keterbatasan yang penulis miliki, penulis telah mewujudkan impian penulis melalui konsep sederhana mengenai gerakan memajukan Indonesia yakni dengan mengenali potensi diri (minat-bakat & bidang kita) kemudian mendayagunakan potensi diri tersebut untuk memajukan Indonesia. Hasilnya bisa pembaca sekalian lihat pada tulisan-tulisan penulis yang terdahulu hingga sekarang.

Coba kita bayangkan, jika penulis yang saat ini adalah orang biasa & orang kecil serta bukanlah siapa-siapa & tidak memiliki hal sangat berharga yang bisa dipersembahkan untuk Indonesia ternyata bisa melakukan suatu hal kecil & sederhana demi memajukan Indonesia sesuai minat-bakat & bidangnya, lalu bagaimana jika yang melakukan gerakan memajukan Indonesia adalah orang besar & berpengaruh yang memiliki segala sumber daya? Jika orang seperti itu yang melakukannya maka suatu hal yang besar & rumit pun tidak sulit untuk dilakukan. Jika beberapa orang besar & berpengaruh yang melakukannya untuk memajukan Indonesia, maka bukan tidak mungkin bahwa negara kita dapat mengejar ketertinggalan & dalam waktu yang tidak lama lagi negara Indonesia dapat menjadi negara yang maju-makmur-sentosa & berdaulat. Tapi kita kembali lagi kepada kenyataan, bahwa saat ini penulis sudah berusaha untuk memajukan Indonesia sebatas kemampuan & keterbatasannya, lalu bagaimana dengan anda, terutama anda-anda yang punya kemampuan lebih tetapi belum tergerak untuk memajukan Indonesia? Bagi para pembaca yang telah lebih dahulu berjuang & bertindak nyata dalam memajukan Indonesia, maka penulis saat ini juga punya tujuan yang sama tetapi melalui cara & gayanya sendiri. Jika ada yang tidak berkenan dengan cara & gaya penulis dalam mencapai tujuan tersebut (dalam memajukan Indonesia), maka tidak berkenannya anda seharusnya tidak membuat hubungan kita merenggang apalagi sampai membuat kita bermusuhan. Tujuan kita sama, hanya saja caranya yang berbeda. Jadi buat apa bermusuhan? Lebih baik kita sama-sama meraih tujuan tersebut dengan cara masing-masing agar tujuan tersebut bisa segera terwujud.